“ANALISIS
KESALAHAN
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA”
Dosen pengampu :
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Lailatul Fitria
(16188201046)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
2016-2017
A.
PENGERTIAN
KESALAHAN BERBAHASA
Kesalahan
berbahasa adalah penyimpangan kaidah dalam pemakaian bahasa. Kesalahan
berbahasa dapat terjadi pada anak kecil maupun orang dewasa. Jika kesalahan itu
dilakukan oleh anak kecil yang sedang dalam proses menguasai B1 biasanya
disebut errors (Silap). Sementara
itu, jika penyimpangan dilakukan oleh orang dewasa (yang sudah dianggap
menguasai bahasa pertama) disebut mistake
(kesalahan).
Seorang
anak yang tugas atau pekerjaan orangtuanya berpindah-pindah dari wilayah bahasa
daerah satu ke wilayah bahasa daerah yang lain dengan membawa seluruh anggota
keluarganya, anak akan bergaul dengan masyarakat berbahasa daerah baru. Proses
penguasaan bahasa daerah di tempat yang baru tetap akan terjadi melalui proses
pemerolehan. Secara teoritis, seorang anak mampu menguasai berapa pun bahasa
baru - asal memperoleh lingkungan bahasa baru tersebut - tanpa mengalami
kesulitan. Dunia anak adalah dunia bermain, teman bermainnya adalah teman-teman
yang ada di lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, motivasi belajar bahasa
baru (B2, B3, B4 dan seterusnya) sangat tinggi karena motivasi tersebut
merupakan motivasi integratif.
Artinya, motivasi untuk menguasai B2 adalah motivasi untuk menjadi bagian dari
lingkungan masyarakat terdekatnya.
Orang
dewasa menguasai BD baru dilakukan melalui belajar (learning). Proses belajar ada kemungkinan bisa gagal karena mereka
biasanya menguasai BD baru mulai dari mempelajari kaidah dan baru menggunakan
kaidah untuk berbahasa. Hal inilah yang menyebabkan lambannya penguasaan BD
baru. Kendala yang dialami oleh orang dewasa Indonesia ketika memasuki wilayah
BD baru, mereka tidak cepat dapat menguasai BD baru. Kendala lain yang
menyebabkan lambannya penguasaan bahasa baru bagi orang dewasa adalah kendala
psikologis. Kendala lain dalam menguasai BD baru bagi orang dewasa adalah
rendahnya motivasi.
Belajar
bahasa seperti halnya bentuk-bentuk belajar sesuatu yang lain, kekeliruan yang
diperbuat oleh pembelajar selama dalam proses belajar tidak dapat dipandang
sebagai kesalahan begitu saja tetapi harus dipandang sebagai satu bagaian dari
strategi belajar. Bahasa yang dipakai/dikuasai oleh seseorang yang sedang dalam
proses belajar bahasa disebut “bahasa
antara” (interlanguage) (Selinker, 1972).
Berkaitan
dengan contoh diatas, dalam teori belajar bahasa disebut dengan teori analisis
kesalahan (AKS). Inilah pentingnya memperhatikan AKS dalam pembelajaran bahasa.
B.
BAHASA
ANTARA BUKAN KESALAHAN BERBAHASA
Bahasa
antara merupakan bahasa yang dihasilkan oleh seseorang yang sedang dalam proses
menguasai bahasa kedua. Ciri utama bahasa antara (interlanguage) adalah adanya penyimpangan struktur lahir dalam
bentuk kesilapan (errors) berbahasa.
Kesilapan-kesilapan
yang dilakukan oleh orang yang sedang berusaha menguasai bahasa kedua harus
dipandang sebagai kesilapan yang dilakukan oleh seorang anak kecil, yang sedang
berusaha belajar bahasa ibu (B1). Kesalahan-kesalahan berbahasa demikian,
Corder (1971) membedakan istilah salah (mistake),
selip (lapses), dan silap (errors). Salah (mistake) adalah penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena
penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang tepat sesuai
dengan situasi yang ada. Kesalahan berbahasa yang disebut mistakes terjadi secara tidak sistemis. Selip (lapses) merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat
perhatian topik pembicaraan secara sesaat. Silap (errors) merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang
terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa.
Permasalahan
kesilapan adalah permasalahan bahasa antara. Bahasa antara yang mengamati
bahasa pembelajar sesungguhnya sekaligus mengamati perilaku pembelajar dalam
psikologi mempelajari bahasa kedua. Selinker (1972) mengatakan bahwa struktur
psikologis yang terpendam dalam otak dapat diaktifkan bilamana seseorang
mempelajari bahasa kedua.
C.
SEBAB
TERJADINYA KESALAHAN DALAM PROSES BELAJAR BAHASA
Proses
sentral adalah proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing yang terjadi pada
sistem kognisi pembelajar. Proses-proses sentral yang menyebabkan terjadinya
kesilapan berbahasa sebagai berikut : a) over generalisasi; b) transfer; c)
penerapan kaidah dalam konteks yang keliru; d) proses pengajaran yang tidak
efisien; e) penerapan kaidah secara tidak lengkap; f) perumusan kaidah secara
keliru; g) strategi belajar B2; h) strategi komunikasi dan; i) pengabaian
pembatasan pemakaian kaidah B2.
D.
LANGKAH
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Secara
teoretis AKS dapat dipakai untuk menganalisis bahasa pembelajar dengan tujuan
untuk mendiagnosis kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh pembelajar dalam
proses menguasai B2. Langkah analisis kesilapan Corder (1971) mengemukakan tiga
tahap : pertama, tahap mengenal kalimat-kalimat idiosinkretik. Kedua,
mendeskripsikan bahasa antara berdasarkan pasangan kalimat yang baik dan jelek
strukturnya. Tahap ketiga adalah penjelasan, penjelasan itu menyangkut masalah
mengapa bahasa antara itu “demikian adanya”.
Setelah
tahap-tahap analisis selesai, kemudian dilanjutkan kepada tahap interpretasi.
Untuk dapat sampai kepada interpretasi yang benar analisis dapat bertanya
kepada pembelajar mengenai maksudnya dalam BI dan kemudian menerjemahkannya ke
dalam B2. Langkah ini disebut interpretasi
otoritatif karena bahasa pembelajar tidak dapat ditemui, analisis melakukan
interpretasi berdasarkan konteks linguistik dan konteks situasinya. Hasil
interpretasi ini disebut interpretasi
kemungkinan. Oleh karena itu, hasilnya disebut rekonstruksi kemungkinan.
E.
IMPLIKASI
AKS DALAM PBI
Masyarakat
Indonesia kebanyakan dwibahasawan dengan bahasa Daerah (BD) sebagai BI dan
bahasa Indonesia (BI) sebagai B2. Penelitian kemampuan berdwibahasa terhadap
anak-anak SD di DIY oleh Dr. Soepomo menunjukkan bahwa kemampuan ber-BI-nya
masih lemah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kesalahan pembelajar dalam
ber-BI. Sebab-sebab terjadinya kesalahan adalah 1) pengertian yang kacau, 2)
interferensi, 3) karena logika yang belum masak, 4) karena analogi, dan 5) sikap sembrono (Soepomo, 1977).
Penelitian
terhadap anak-anak SD kelas enam di Sumatera Selatan disimpulkan bahwa mereka
kurang mampu mnyusun kosakata dalam berbahasa Indonesia yang diberikan secara
aktif maupun secara reseptif (Salahuddin dkk., 1981).
Penelitian
terhadap kemampuan ber-BI anak-anak SMP Sumatera Barat lewat membaca dan
menulis juga belum mendapatkan gambaran yang menggembirakan mengingat hasil
maksimal kemampuan membaca dan menulis hanyalah sedang (Ranjad, 1981).
Dari
ketiga penelitian yang ada hanya penelitian Dr. Soepomo yang memberikan
deskripsi sebab-sebab ketidakmampuan berbahasa, sedangkan dua penelitian
berikutnya tidak memberikan deskripsi apa-apa kecuali hanya menunjukkan
kesalahan-kesalahan yang ada.
Berdasarkan
dua penelitian diatas kiranya dapat diasumsikan bahwa kebanyakan peneliti
bahasa dan guru bahasa belum mampu mengidentifikasi sebab-sebab kesalahan serta
seberapa tingkat kesalahan yang diperbuat oleh pembelajar dalam berbahasa.
Bertolak dari teor-teori dasar analisis “bahasa antara” melalui analisis
kesalahan serta berbagai sebab terjadinya, kiranya analisis kesalahan dapat
diterapkan untuk meningkatkan keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran bahasa.
Argumen-argumen yang dikemukakan antara lain : a) masyarakat Indonesia yang
kebanyakan dwibahasawan dengan B1 berupa BD memiliki kecenderungan yang lebih
besar untuk melakukan kesalahan ber-BI; b) kemungkinan timbulnya kesulitan guru
untuk menerapkan analisis kesalahan dalampengajaran bahasa (BI) sangat kecil
karena semua guru menguasai B1, pembelajaran tidak ada kesulitan untuk
mendapatkan bantuan penutur asli; c) pembelajar-pembelajar kebanyakan bukan
orang yang asing sama sekali dengan BI sehingga kemungkinan keberhasilannya
jauh lebih besar.
Daftar Pustaka : Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar