“Analisis Kontrastif (AK) Dalam
Pembelajaran
Bahasa”
Dosen pengampu :
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Lailatul Fitria
(16188201046)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
2016-2017
A.
MEMAHAMI
AK
Analisis Kontrastif (AK)
mencoba menjembatani kesulitan dalam proses menguasai bahasa kedua (B2) yang
tercampurnya sistem bahasa pertama (B1) dengan sistem B2, dengan mengontraskan
kedua sistem bahasa yang ada untuk meramalkan kesulitan-kesulitan yang terjadi.
Beberapa
ahli mencoba untuk menghubungkan berbagai faktor yang ikut terlibat dalam
proses penguasaan bahasa, yaitu faktor
bentuk bahasa (berupa bunyi, sistem bunyi dan struktur gramatik yang
dipakai sebagai sarana agar fungsi komunikatif dapat berlangsung) dan faktor sistem bahasa (berupa unit-unit
dan struktur kebahasaan) yang akan memengaruhi faktor-faktor psikologi, antara
lain : a) pemerolehan B2; b) hakikat belajar (baik dalam menurut pandangan kaum
behavioris maupun kaum kognitivis); c) faktor kepribadian; d) dimensi-dimensi
sosiokultural (Brown, 1980).
Jika
proses penguasaan bahasa ternyata melibatkan berbagai faktor yang rumit dan
berbagai usaha telah dilakukan tetapi hasilnya tetap belum memuaskan semua
pihak. Dengan cara demikianlah teori bermunculan dan ilmu pengetahuan
berkembang. Nasib yang sama dialami AK. Pada waktu Fries (1945) mengajukan
hipotesis bahwa materi pengajaran yang paling efektif dalam proses menguasai B2
adalah materi yang didasarkan pada deskripsi secara cermat mengenai bahasa
target yang akan dipelajari dan kemudian dibandingkan dengan bahasa ibu. Tahun
1957 muncul karya Robert Lado yang berjudul Linguistics
a Cross Culture kemudian menjadi buku acuan dalam AK.
Begitu
juga dengan munculnya teori Chomsky (1968) mengenai kesemestaan bahasa (language universals) dan teori tentang
struktur batin bahasa (deep structure),
AK seakan mendapat dukungan akan kebenaran teorinya. Keraguan terhadap
kehebatan teori AK mulai muncul ketika Ronald Wardhaugh (1970) dalam paper
kecilnya berjudul Contrastif Analysis memaparkan kelemahan AK dan menyarankan
perlunya periode tentang (silent period) sambil menunggu munculnya metode
linguistik dan analisis kebudayaan yang sempurna.
Keraguan
diajukan juga oleh Ollerr (1979) ketika ia menekankan pada hakikat belajar,
yang dalam AK kurang menekan hal itu. Betapapun keraguan dan kritik terhadap AK
muncul dari berbagai penjuru, bukan berarti sudah tertutup jalan untuk mencari
kemungkinan diterapkannya AK dalam mengajarkannya bahasa kedua.
B.
LINGUISTIK
KONTRASTIF
Linguistik
kontrastif adalah suatu cabang ilmu bahasa yang tugasnya membandingkan secara
sinkronis dua bahasa sedemikian rupa sehingga kemiripan dan perbedaan kedua
bahasa itu bisa dilihat (Lado, 1957). Lado menganjurkan agar pengontrasan itu
dilakukan terhadap fonologi, struktur
gramatik, kosokata serta sistem tulisan. Pengontrasan fonologi dilakukan terhadap sistem bunyi, transfer
dari sistem bunyi (varian, pola tekanan dan ritme, transisi, intonasi serta
hubungannya dengan fonem-fonem lain). Pengontrasan
struktur gramatik hendaknya dibedakan
pengertiannya, dengan tata bahasa. Struktur gramatik adalah konstruksi bahasa
yang lazim dipakai oleh penutur asli dalam berkomunikasi. Hal ini sering
bertentangan dengan pengertian tata bahasa yang bersifat prespektif (bahasa
harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang telah dibuat, bukan
sebaliknya).
Elemen-elemen
bentuk yang dipergunakan dalam struktur gramatik adalah elemen urutan kata,
infleksi, korelasi bentuk, kata fungsi, intonasi, tekanan kata dan jeda.
Pengontrasan dua sistem kosakata dilakukan terhadap bentuk, arti dan
distribusinya. Pengontasan bentuk kata disebabkan oleh sering terjadinya
perubahan-perubahan sesuai dengan suasana pemakaian, kecepatan berbicara,
posisi dalam kalimat, posisi dalam hubungannya dengan tekanan.
Distribusi
pemakaian kata sangat penting untuk dikontraskan karena menyangkut kebiasaan
soal boleh tidaknya suatu bentuk linguistik dipakai dalam situasi tertentu.
Pengontrasan dua sistem tulisan juga penting, meskipun tulisan bukan bahasa,
tetapi hanya sekadar cara untuk merekam bahasa dengan tanda-tanda yang dapat
dilihat denagan mata (Bloomfield, 1942).
Teknik
pengontrasan dua sistem bahasa seperti itu oleh sementara orang digolongkan
sebagai AK versi keras (Strong version)
(Wardhaugh, 1979). Tokoh-tokoh pendukung versi ini antara lain Fries, Lado,
Valdman’s. Sedangkan pendukung VL antara lain Stocwell dan Bowen dengan
karyanya The Sound of English and Spanish (1965) dan The Grammatical Structures
of English and Spanish. Versi lain dari VK dan VL adalah VM (Versi Moderat).
Apapun
versinya, usaha untuk mengontraskan dua sistem bahasa hendaknya dilakukan
dengan langkah-langkah : a) deskripsi kedua bahasa yang akan dikontraskan; b)
seleksi unsur-unsur persamaan dan perbedaan kedua bahasa; c) mengontraskan
perbedaan sistem kedua bahasa; d) meramalkan sebab-sebab kesulitan belajar
berdasarkan hasil pengontrasan tersebut.
AK
pada dasarnya bertujuan : a) memberikan wawasan tentang persamaan dan perbedaan
antara bahasa pertama dengan bahasa kedua yang akan dipelajari; b) menjelaskan
dan memperkirakan masalah-masalah (yang timbul) dalam belajar B2, dan; c)
mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua untuk pengajaran bahasa (Hamied,
1987).
Usaha-usaha
yang harus dilakukan agar tujuan belajar bahasa kedua berhasil secara maksimal
adalah : a) menetapkan materi yang terpilih; b) mengadakan analisis ilmiah pada
materi bahasa yang sudah terpilih untuk mendapatkan hasil yang signifikan
tentang struktur dan sistem kedua bunyi bahasa, dan; c) mengadakan perbandingan
antara bahasa kedua dengan bahasa ibu pembelajar (Fries, 1945). Dengan cara
demikian, menurut Fries dipandang bahwa PB akan lebih ekonomis dan efisien.
C.
KRITIK
TERHADAP AK
Kritik
pertama dikemukakan oleh Ronald Wardhaugh (1970) bahwa AK
menimbulkan ketidakpastian karena tidak memadainya teori linguistik yang ada. Kritik kedua dikemukakan oleh Whitman
dan Jackson (1972) ketika mereka mengadakan tes empirik terhadap teori AK. Kritik ketiga dikemukakan oleh Brown
(1980) bahwa AK yang populer itu ternyata hanya berhasil meramalkan kesulitan
dalam bidang fonologi. Kritik keempat dikemukakan oleh Abdul Wahab (tidak
dipublikasikan) bahwa penerapan AK terhadap dua sistem bahasa yang sangat
berbeda harus ditinjau kembali.
Daftar Pustaka : Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar