“BERBAHASA SECARA KOMUNIKATIF DAN SANTUN”
Dosen pengampu :
M. Bayu
Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Lailatul Fitria (16188201046)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
2016-2017
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................................
DAFTAR
ISI...............................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang.................................................................................................................
1.2 Rumusan
Masalah............................................................................................................
1.3 Tujuan...............................................................................................................................
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Penggunaan
bahasa untuk berkomunkasi…………………………………………….
2.2
Hal-hal yang
harus diperhatikan dan faktor-faktor penyebab penyimpangan dalam kegiatan
komunikasi……………………………………………………………………
2.3
Fungsi
komunikatif bahasa……………………………………………………………..
2.4
Faktor
penentu kesantunan dalam berkomunikasi……………………………………..
2.5
Faktor yang dapat menggagalkan komunikasi…………………………………………
2.6
Faktor
kebahasaan sebagai penanda kesantunan……………………………………….
2.7
Prinsip kesantuan dan prinsip kerja sama dalam berkomunikasi………………………
2.8
Nilai budaya
sebagai pendukung kesantunan dan kekomunikatifan berbahasa………..
BAB
III PENUTUP
3.1 Simpulan..........................................................................................................................
3.2 Saran................................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA..................................................................................................................
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah – Nya kepada
kita sekalian, sehingga dalam kehidupan kita dapat berkarya serta melaksanakan
tugas dan kewajiban di bidang masing – masing. Semoga kita semua selalu
mendapat petunjuk dan perlindungan – Nya sepanjang masa. Dan dalam pada itu
dengan izin – Nya, Alhamdulillah niat dan tekad penulis untuk menyelesaikan
penyusunan makalah “Berbahasa Secara Komunikatif Dan
Santun” dapat tersusun dengan baik.
Makalah ini di susun dengan bahasa
yang sederhana berdasarkan literatur dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman
mengenai teori yang di bahas. Kendati demikian, tak ada gading yang tak retak. Penulis
menyadari bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh
karena itu kami terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang
konstruktif dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pasuruan, 26 November 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan sebuah sarana yang
digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki
peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. Menurut
Kridalaksana(1993: 21), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang
dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,
berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
pasti menggunakan bahasa untuk berinteraksi satu sama lain. Chaer dan Agustina
(2004: 14) menyatakan bahwa secara tradisional dapat dikatakan bahwa fungsi
bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau sebagai alat komunikasi, dalam arti
bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi, perasaan, gagasan, ataupun
konsep.
Dalam berinteraksi, diperlukan
aturan-aturan yang mengatur penutur dan lawan tutur agar nantinya dapat
terjalin komunikasi yang baik diantara keduanya. Aturan-aturan tersebut
terlihat pada prinsip kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Leech (1993:
206).
Dalam berbahasa, manusia perlu
memperhatikan adanya kesantunan berbahasa ketika berkomunikasi dengan manusia
lainnya. Hal itu bertujuan agar manusia bisa menggunakan
bahasa yang santun dan tidak melakukan kesalahan dalam berbahasa.
Sebuah tuturan dikatakan santun atau
tidak, sangat tergantung pada ukuran kesantunan masyarakat penutur bahasa yang
dipakai. Tuturan dalam bahasa Indonesia secara umum sudah dianggap santun jika
penutur menggunakan kata-kata yang santun, tuturannya tidak mengandung ejekan
secara langsung, tidak memerintah secara langsung, serta menghormati orang
lain. Oleh karena itu, kesantunan berbahasa ini perlu dikaji guna mengetahui
seberapa banyak kesalahan atau penyimpangan kesantunan berbahasa pada manusia
ketika berkomunikasi satu sama lain.
Dalam berkomunikasi dengan orang
lain, kesantunan berbahasa merupakan aspek yang sangat penting untuk membentuk
karakter dan sikap seseorang. Dari penggunaan bahasa seseorang dalam bertutur
kepada orang lain, dapat diketahui karakter dan kepribadian yang dimiliki
seseorang tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam
pembahasan makalah ini penulis merumuskan beberapa masalah berikut :
1)
Bagaimana
dasar-dasar penggunaan bahasa untuk berkomunkasi?
2)
Apa hal-hal
yang harus diperhatikan dan faktor-faktor penyebab penyimpangan dalam kegiatan
komunikasi?
3)
Apa fungsi
komunikatif bahasa?
4)
Apa faktor
penentu kesantunan dalam berkomunikasi?
5)
Apa saja faktor yang dapat menggagalkan komunikasi?
6)
Apa saja faktor kebahasaan sebagai penanda kesantunan?
7)
Apa saja prinsip kesantuan dan prinsip kerja sama dalam berkomunikasi?
8)
Apa saja nilai budaya sebagai pendukung kesantunan dan
kekomunikatifan berbahasa?
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari penulis membuat makalah ini sebagai berikut :
1)
Mendeskripsikan
dasar-dasar penggunaan bahasa untuk berkomunkasi.
2)
Mendeskripsikan
hal-hal yang harus diperhatikan dan factor-faktor penyebab penyimpangan dalam
kegiatan komunikasi.
3)
Mendeskripsikan
fungsi komunikatif bahasa.
4)
Mendeskripsikan
faktor penentu kesantunan dalam berkomunikasi.
5)
Mendeskripsikan faktor yang dapat menggagalkan komunikasi.
6)
Mendeskripsikan faktor kebahasaan sebagai penanda kesantunan
7)
Mendeskripsikan
prinsip kesantuan dan prinsip kerja sama dalam berkomunikasi.
8)
Mendeskripsikan
nilai budaya sebagai pendukung kesantunan dan
kekomunikatifan berbahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penggunaan Bahasa
Berbahasa secara komunikatif berarti cara menggunakan
bahasa sesuai dengan fungsi-fungsi komunikasi bahasa agar mudah di pahami oleh
pendengar atau pembaca. Namun harus disadari cara menggunakan bahasa tidak
cukup hanya merangkai bunyi, kata, kalimat, paragraf atau bahkan wacana.
Perhatikan contoh dibawah ini!
(1)
A : Berapa jumlah penduduk Indonesia tahun 2007?
B : Ada 220 juta orang.
(2)
A : Kok udaranya panas, ya? (penutur sambil melihat jendela yang terbuka)
B : Maaf Pak, lupa belum dibuka! (mitra
tutur menghampiri jendela dan membukanya)
(3)
A : warna bajuku kok dah pada kusam, ya Bu?
B : Tapi baru tanggal tua, je Pak!
A : Ya udah, besok kalau dah gajian aja.
Model komunikasi seperti contoh (2) dan (3) diatas
sangat lazim dipakai dalam berkomunikasi. Sementara itu, jika komunikasi semua
dilakukan seperti contoh (1) justru kadang-kadang akan terasa kasar, tidak
santun, kadang terlalu vulgar untuk hal-hal tertentu. Bila segala komunikasi
dilakukan seperti contoh (1) membuktikan bahwa penutur belum mahir menggunakan
bahasa untuk berkomunikasi.
Perhatikan contoh lain dibawah ini!
(4)
A : Kamu mau minum ndak, Pak? (pertanyaan tuan rumah
kepada tamunya)
B : Tidak usah, tadi sudah minum di rumah kok!
(5)
A : Ayo ta Mas, mbok aku juga diberi perhatian ta, kok
ngurus pekerjaan terus! (ajakan istri pada suaminya di malam hari)
B : Butuh tak sayang juga, ta Bu! (padahal ada anak-anak belum tidur)
Contoh (4) terasa sangat tidak santun. Begitu juga
contoh (5) sangat kasar dan vulgar. Bila demikian, sebenarnya bagaimanakah
berbahasa secara komunikatif itu? Berbahasa secara komunikatif adalah cara
menggunakan bahasa berdasarkan fungsi-fungsi komunikasi bahasa dengan
memperhatikan konteks pemakaiannya.
B. Kegiatan Berkomunikasi
Bagi seorang penutur atau penulis agar dapat
berkomunikasi dengan baik perlu “meng-encode”
(mengemas, mengepak, mewadahi)
gagasan menggunakan bahasa. Ketika mengemas gagasan, seseorang harus
memperhatikan beberapa hal (Hymes, 1989), yaitu :
1)
Situation : keadaan
yang melingkupi terjadinya peristiwa komunikasi (santai, serius, netral, dan sebagainya).
2)
Participant : siapa
orang yang ikut terlibat dalam peristiwa komunikasi (teman kerja, atasan, bawahan, pembantu, dan sebagainya).
3)
Ends (tujuan) : apa yang ingin dicapai
melalui komunikasi (memengaruhi, memberi
informasi, menyuruh, membujuk, merayu, dan sebagainya).
4)
Addresee (mitra komunikasi) : orang yang diajak
berkomunikasi (mitra tutur).
5)
Keys (kunci) : pokok persoalan yang menjadi
kunci pembicaraan.
6)
Instruments : segala
hal yang ada diseputar pembicara yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung
kelancaran pembicaraan.
7)
Norms (norma/kaidah) : kaidah yang harus
diikuti oleh pembicara (pranata sosial
masyarakat yang berlaku).
8)
Genre (ragam/corak bahasa) : aneka ragam
bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi (ragam santai, ragam formal, ragam literer, dan sebagainya).
Agar komunikasi dapat berjalan lancar, penutur akan
berusaha agar informasi atau pesan yang disampaikan dapat dikemas sebaik
mungkin dengan harapan dapat mudah dipahami oleh pendengar maupun pembaca.
Sedangkan bagi pendengar atau pembaca, informasi atau pesan yang disampaikan
penutur atau penulis diharapkan mudah dipahami atau ditangkap dengan mudah.
Namun dalam kenyataannya, penutur atau penulis sering
gagal menyampaikan pesan yang dipikirkannya. Pesan yang dipikirkannya
kadang-kadang jauh lebih banyak daripada yang dapat disampaikan. Bahkan, ketika
seseorang berbicara atau menulis, yang diucapkan atau ditulis dapat menyimpang
jauh dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Faktor-faktor yang sering menyebabkan terjadinya
penyimpangan-penyimpangan pesan antara lain :
a.
Topik pembicaraan tidak dipilih secara terfokus.
b.
Gagasan dari topik yang dipilih tidak ditata secara
sistematis.
c.
Alur pikiran tidak ditata secara logis.
d.
Pemakaian bahasa tidak dikembangkan secara kreatif,
dan
e.
Kurang terlatih mengungkapkan gagasan secara lisan
maupun tertulis.
Ada faktor lain diluar kebahasaan, tetapi selalu
merasuk dalam pemakaian bahasa, seperti dibawah ini :
a.
Menyembunyikan maksud dengan tidak mengungkapkan
secara langsung demi menjaga kesopanan,
b.
Mengalihkan pembicaraan demi menjaga perasaan mitra
tutur,
c.
Membantah tuturan demi menghindari rasa malu, dan
sebagainya.
C. Fungsi Komunikatif Bahasa
Fungsi bahasa adalah cara bagaimana bahasa itu
digunakan. Dengan demikian, fungsi komunikatif bahasa adalah bagaimana cara
bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi. Pranowo (1988) mengidentifikasikan
fungsi komunikatif bahasa menjadi 11 (sebelas) macam, sebagai berikut :
1. Fungsi informatif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan
informasi kepada pendengar atau pembaca. Informasi yang dimaksud adalah segala
pikiran atau perasaan yang terkandung dalam benak seseorang.
2. Fungsi transaksional
Adalah bahwa bahasa dipakai untuk mengadakan hubungan
antara seseorang dengan orang lain.
3. Fungsi interaksional
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk saling
berhubungan satu dengan yang lain dalam segala keperluan.
4. Fungsi komisif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk menyatakan
kesanggupan atau ketidaksanggupan mengenai sesuatu dengan orang lain.
5. Fungsi derektif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengajukan
saran, membujuk, permintaan, meyakinkan orang lain dan sebagainya.
6. Fungsi konatif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk mencairkan
pembicaraan antara penutur dengan mitra tutur.
7. Fungsi ekspresif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk
mengungkapkan perasaan, suasana hati, masalah pribadi, berbicara dalam hati,
berbicara dari hati ke hati, dan sebagainya.
8. Fungsi regulatory
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengontrol
sesuatu peristiwa.
9. Fungsi heuristik
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengenal
lingkungan seperti anak kecil ingin mengenal sesuatu yang belum dikenal
sebelumnya.
10. Fungsi instrumental
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk memanipulasi
lingkungan sehingga terjadi suatu peristiwa.
11. Fungsi imajinatif
Adalah bahwa bahasa dapat digunakan untuk menciptakan
ide-ide yang bersifat imajiner dan mengandung keindahan.
D. Faktor Penentu Kesantunan
Faktor
penentu kesantunan adalah segala hal yang dapat memengaruhi pemakaian
bahasa menjadi santun atau tidak santun. Faktor penentu kesantunan dari aspek
kebahasaan dapat diidentifikasi sebagai berikut (Bagian ini diambil dari buku Berbahasa Secara Santun, Pranowo, 2009).
Aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan
antara lain, aspek intonasi (keras
lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur : nada
resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat.
Aspek
intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa.
Aspek nada dalam
bertutur lisan memengaruhi kesantunan berbahasa seeseorang. Nada adalah naik
turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur.
Pilihan kata merupakan
salah satu penentu kesantunan dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis.
Ketika seseorang sedang bertutur, kata-kata yang digunakan dipilih sesuai
dengan topik yang dibicarakan, konteks pembicaraan, suasana mitra tutur, pesan
yang disampaikan, dan sebagainya.
Dalam bahasa lisan, kesantunan juga dipengaruhi oleh
faktor bahasa nonverbal, seperti gerak-gerik anggota tubuh, kerlingan mata,
gelengan kepala, acungan tangan, kepalan tangan, tangan berkacak pinggang, dan
sebagainya.
Faktor
penentu kesantunan yang dapat diidentifikasi dari bahasa verbal tulis,
seperti pilihan kata yang berkaitan dengan nilai rasa, panjang pendeknya
struktur kalimat, ungkapan, gaya bahasa, dan sebagainya.
Faktor
penentu kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya
masyarakat (aturan anak kecil harus selalu hormat kepada orang yang lebih tua,
makan tidak boleh sambil berbicara, makan tidak boleh berkecap, bersendawa
sehabis makan, perempuan tidak boleh tertawa terbahak-bahak, bercanda ditempat
orang yang sedang berduka, dan sebagainya). Pranata adat, seperti jarak bicara
antara penutur dengan mitra tutur, gaya bicara (perhatian kepada mitra tutur :
penuh perhatian kepada mitra tutur, tidak memperhatikan wajah mitra tutur atau
“melengos”).
Faktor nonkebahasaan yang dapat menentukan santun
tidaknya pemakaian bahasa adalah sikap penutur terhadap mitra tutur atau
orang-orang yang ada diseputar mitra tutur.
Disamping pemakaian bahasa verbal maupun nonverbal,
penutur harus memperhatikan faktor nonkebahasaan, yaitu pranata sosial budaya
yang berlaku dalam masyarakat, topik yang dibicarakan, serta konteks yang ada
di seputar peristiwa komunikasi.
E. Faktor
Yang Dapat Menggagalkan Komunikasi
Ketika seseorang berkomunikasi harapan
utamanya adalah mendapat tanggapan dari mitra tutur sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Ketika penutur ingin meminta sesuatu, harapannya pasti diminta
akan diberikan. Namun, kenyataannyatidak demikian.
Banyak faktor yang menyebabkan komunikasi
dapat gagal antara lain, a) mitra tutur tidak memiliki informasi lama sebagai
dasar memahami informasi baru yang disampaikan penutur, b) mkitra tutur tidak
tertarik dengan isi informasi yang disampaikan penutur, c) mitra tutur tidak
berkenan dengan cara menyampaikan informasi si penutur, d) apa yang diinginkan
memang memang tidak ada atau tidak dimiliki oleh mitra tutur, e) mitra tutur
tidak memahami yang dimaksud oleh penutur, dan f) jika menjawab petanyaan,
mitra tutur justru melanggar kode etik.
1.
Mitra Tutur tidak Memiliki Informasi
Lama
Komunikasi
akan dapat berjalan lancar jika commound ground antara penutur dan mitra tutur sama. Commound
ground yang dimaksud adalah dasar pemahaman yang sama mengenai topic yang
dibicarakan. Ketika penutur mengomunikasikan gagasan, mereka sebelumnya pasti
melakukan coding mengenai ide yang akan disampaikan. Proses coding adalah
proses berpikir untuk mengemas gagasan menggunakan bahasa yang akan digunakan.
Ketika
mitra tutur meneria pesan penutur, dia akan melakukan decoding. Proses
tersebut juga merupakan pergulatan kognisi mitra tutur untuk mempertemukan
informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya (informasi
lama).
Jika
pergulatan kognisi untuk memproses informasi baru ternyata dapat diterima atau
sesuai dengan pengetahuan lama yang sudah dimiliki oleh mitra tutur, informasi
baru akan disimpan dalam long term memory mitra tutur untuk djadikan
pengetahuan.
Namun,
pada saat tertentu dasar pemahaman antara penutur dan mitra tutur tidak
samajika hal ini terjadi, komunikasi akan terhambat. Perhatikan contoh dibawah
ini.
Penutur : Sangat disayangkan ketika caos di
dalam negeri terjadi karna konflik ataretnis, justru dia tetap pergi mengadakan
kunjungan ke luar negeri.
Mitra
Tutur : Konflik apa dan dimana?
Penutur : Konflik etnis Dayak dengan Madura di
Kalimantan Tengah, kan disiarkan di
televise.
Mitra
Tutur : Tadi Anda bilang terjadi apa
itu, caos, apa itu?
Penutur : Ah, kamu.
Kegagalan komunikasi seperti itu karna respons mitra
tutur tidak seperti yang dikehendaki oleh penutur. Mitra tutur tidak memiliki
informasi lama yang cukup memadai berkaitan dengan topic yang dibicarakan oleh
penutur sehingga mitra tutur tidak dapat merespons penutur. Akibatnya, penutur
tidak mau melanjutkan komunikasi dengan mitra tutur.
2.
Mitra Tutur tidak Tertarik dengan
Informasi Penutur
Komunikasi
dapat terjadi jika informasi yang dibicarakan sama-sama diminati oleh penutur
dan mitra tutur. Namun, kadang-kadang informasi yang diminati penutur dan ingin
sekali agar mitra tutur mengetahui informasinya, penutur menyampaikan informasi
itu keoada mitra tutur. Perhatikan contoh dibawah ini.
Penutur : Sekarang sudah mulai kampanye ya,
mas! Orang-orang politik sudah mulai tebar janji akan memperbaiki nasib rakyat
kecil, ya.
Mitra
Tutur : Ndak tahu dik, saya ndak ngikuti
Respons mitra
tutur seperti itu tentu tidak tidak diharapkan oleh penutur. Namun, karna mitra
tutur memang tidak tertarik untuk berbicara masalah politik, terpaksa mitra
tutur memberikan penolakan.
Jika mitra tutur
tetap mau menjaga kesantunannya, sebenarnya tidak perlu memberan penolakan
secara langsung seperti itu. Mitra tutur dapat mengalihkan topic pembicaraan ke
topic lain agar penutur sendiri yang menyimpulkan bahwa mitra tutur tidak
tertarik pada topik yang dibicarakan penutur.
3.
Mitra Tutur tidak Berkenan dengan
cara Menyampaikan Informasi Penutur
Komunikasi
dapat gagal ketika mitra tutur tidak berkenan dengan cara menyampaikan
informasi si penutur. Perhatikan tuturan di bawah ini!
Penutur : Jika perekonomian benar-benar
berbasis pada pertanian, agar petani dapat hidup makmur, ya memang harus
memilih pemimpin yang memiliki komitmen untuk mengembangkan pertanian yang
berbasis rakyat krcil. Tampaknya, peerintah sekarang memangbtidak kesana
arahnya.
Mitra
Tutur : Apakah ada yang berani menjamin, jika seseorang sudah dipilih pasti
akan mau memperhatikan pengembangan pertanian yang berbais pada rakyat?
Penutur : Ya dicoba, kalau tidak ada yang
memperhatikan nasib petani, ya gimana……
Mitra
Tutur : Ya semakin bobrok kalau nasib petani hanya untuk coba-coba.
Sebenarnya
informasi yang disampaikan oleh penutur merupakan isu umum yang dirasakan
masyarakat. Namun, karna cara penutur menyampaikan pesan terkesan ingin
memojokkan orang lain (pemerintah), mitra tutur tidak berkenan. Oleh karna itu,
reaksi mitra tutur sangat keras dan berada penolakan terhadap penutur.
4.
Apa yang Diinginkan tidak Dimilik
oleh Mitra Tutur
Komunikasi
bisa juga tidak berlanjut atau gagal jika mitra tutur tidak memliki sesuatu
yang diinginkan oleh penutur. Inisiatif komunikasi diawali oleh penutur dan
ditunjukkan kepada mitra tutur agar mendapat respons seperti yang dikehendaki
oleh penutur. Perhatikan data di bawah ini.
Penutur : Saya berharap tidak ada fitnah
diantara kita. Apa lagi fitnah itu justru muncul dari orang dalam yang elama
ini ikut menikmati hasil yang kita capai bersama. Apakah anda tahu siapa
penyebar fitnah itu?
Mitra Tutur : Wah, maaf pak, saya tidak tahu bahkan
mendengar masalah ini baru dari Bapak.
Penutur : .....?
Tuturan di atas
menjadi terhenti karna miyra tutur tidak dapat memberikan respons memadai
seperti yang dikehendaki oleh penutur. Akibatnya, komunkasi dapat terhenti.
5.
Mitra Tutur tidak Memahami yang
Dimaksud oleh Penutur
Ada
banyak kemungkinan mitra tutur tidak memahami maksud penutur, misalnya a) latar
belakang ilmu yang dimiliki oleh penutur dengan mitra tutur berbeda, b)
kosakata dan diksi yang digunakan oleh penutur terlalu sulit sehingga mitra
tutur tidak dapat menangkap pesan yang dimaksud penutur secara bak, c) apa yang
dikatakan penutur berbeda dengan yang dimaksudkan, d) kalimat yang digunakan
mungkin terlalu panjang sehingga mitra tutur terlambat memahami maksud, e)
penutur terlalu banyak menggunakan bahasa bersayap yang belum diketahui oleh
mitra tutur.
Akibatnya mitra tutur akan menghadapi
persoalan lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan topik yang
dibicarakan. Perhatikan data dibawah ini!
Penutur : Rasanya seperti memeluk gunung
didasar laut, belum sampai menyentuh gunung, sudah tenggelam ditelan ombak. Itulah
yang saya alami ketia ingin bertemu dia.
Mitra Tutur : Saya tidak mengerti apa yang kamu
maksudkan.
Pentur : ……..?
Penutur ingin
menyampaikan rasa kecewanya ketika harus menemui teman lama yang sekarang
menjadi pejabat tinggi. Jangankan bisa ketemu dan berbicara, baru memasuki
pekarangan rumahnya saja sudah dihadang oleh security dan ditanya macam-macam
(idntitas, hubungan dengan orang yang ditemui, maksud dan tujuan, apakah sudah
membuat janji sebelunnya, dan sebagainya) akhirnya ditolak satpa dan tidak jadi
dapat bertemu dia. Komunikasi seperti itu gagal karna mitra tutur tidak
memahami maksud yang ingin disampaikan oleh penutur.
6.
Penutur Kode Etik
Komunikasi
kadang-kadang tidak dapat berlanjut karna mitra tutur tidak mungkin dapat
menjawab pertanyaan penutur. Perrhatikan data dibawah ini!
Penutur : Pak, apakah saya dapat lulus
sertifikasi guru yang dikoreksi para asesor minggu lalu?katanya Bapak mengoreksi portofolio
saya?
Mitra Tutur : Wah, gimana ya, saya tidak dapat
mengatakan, tunggu saja hasil pengumumannya
Pentur : ……..?
Penutur sangat
wajar inign mengetahui nasibnya. Namun, penutur lupa bahwa setiap orang bekerja
dibatasi oleh aturan tertentu, dan kode etik yang harus dipegang agar tidak
melanggar sumpah dan janjinya.
F.
Faktor Kebahasaan Sebagai Penanda
Kesantunan
Faktor
yang menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu
faktor kebahasaan dan faktor non kenahasaan. Faktor kebahasaan yang dimaksud
adalah segala unsur yang berkaitan dengan masalah bahasa, baik bahasa verbal
maupun bahasa non verbal. Faktor kebahasaan verbal yang dapat menentukan
kesantunan dapat dideskripsikan sebagai berikut.
1.
Pemakaian Diksi
Argumentasi
yang dapat dikemukakan berkaitan dengan kata-kata berkadar lebih santun
tersebut adalah: a) nilai rasa kata bagi mitra tutur akan terasa lebih halus,
b) persepsi mitra tutur merasa bahwa dirinya diposisikan dalam posisi
terhormat, c) penutur memiliki maksud untuk menghormati mitra tutur, dan d)
dengan berkomnikasi secara santun sebenarnya yang lebih terhormat adalah
penutur karna segalanya yang diungkapkan (baik bahasa maupun isinya) sudah
dihayati sebelum diomunikasikan (menjaga harkat dan martabat diri).
Selain
itu, ada pula fakta bahwa pemakaian bahasa Indonesia yang santun ditandai
dengan pemakaian bahasa verbal, seperti a) perkataan “tolong” pada waktu
menyuruh orang lain, b) ucapan “terima kasih” setelah orang lain melakukan tindakan
seperti yang diinginkan oleh penutur, c) penyebutan kata “bapak, ibu” daripada
kata “anda”, d) penyebutan kata “beliau” daripada kata “dia” untuk orang yang
lebih dihormati, e) pergunakan kata “minta maaf” untuk ucapan yang dimungkinkan
dapa merugikan mitra tutur.
2.
Pemakaian Gaya Bahasa
Gaya bahasa
adalah optimalisasi pemakaian bahasa dengan cara-cara tertentu untuk
mengefektifkan komunikasi. Beberapa data penelitian memperlihatkan bahwa
penutur mengefektifkan komunikasi dengan menggunakan gaya bahasa. Perhatikan
data di bawah ini!
a)
Majas metafora
Majas
metafora banyak dipakai untuk menghaluskan pemakaian bahasa Indonesia agar
terasa santun. Meskipun isi yang disampaikan keras, tetapi dengan dikatakan
secara tidak langsung menggunakan gaya bahasa jenis metafora, tuturan yang
keras itu menjadi tetap terasa santun.
-
“Bola” kenaikan harga BBM itu telah
menggelinding. Bocoran kenaikan harga BBM juga sudah beredar di masyarakat
(Suhartono, 05/05/2008:3)
b)
Gaya bahasa personifikasi
Gaya
bahasa personifikasi juga digunakan untuk mengoptimalkan pemakaian bahas agar
efektif dan terasa santun. Isi tuturannya kadang-kadang berupa kritik, tetapi
karna disampaikan secara tidak langsung dengan personifikasi, kritik itu terasa
tidak menyakitkan.
-
Wajah hukum Indonesia ditampar keras
oleh perilaku aparat hukumnya sendiri (Iwan Satriawan SHMCL,
KR, 6 Maret 2008).
Gaya
pronifikasi, di samping dapat mengefektifkan komunikasi juga dapat menjaga
tuturan tetap santun karena pernyataannya disampaikan secara tidak langsung.
c)
Peribahasa
Peribahasa dapat memperhalus tuturan
yang sebenarnya sangat keras sehingga tuturan itu menjadi terasa santun.
-
Saya merasa sedih, kecewa atas
peristiwa itu karna nilai setitik merusak susu
sebelanga ( Hendarwan, Jaksa Agung; KR,4 Maret
2008)
Peribahasa,
meskipun terasa klise tetapi karna dipakai dalam konteks yang sangat tetap
dapat mengefektifkan komunikasi dan merendam kemarahan sehingga tuturan terasa
santun.
d)
Perumpamaan
Perumpamaan
dapat
menghaluskan tuturan yang sebenarnya terasa keras, tetapi tetap terasa santun
karna dinyatakan secara tidak langsung.
-
Ini seperti sandiwara saja, bagaimana
mungkin kejaksaan Agung sampai menghentikan kasus BLBI. Padahal jelas-jelas
negara sangat dirugikan oleh para obligor tersebut. (Fahmi
Badoh;KR,3 Maret 2008).
Di
samping bentuk-bentuk verbal seperti di atas, perilaku santun juga dapat di
dukung dengan bahasa non-verbal, seperti (a) memperlihatkan wajah ceria, (b)
selalu tampil dengan senyuman ketika berbicara, (c) sikap menunduk ketika
berbicara dengan mitra tutur, (d) posisi tangan yang selalu merapat pada tubuh
(tidak berkecak pinggang). Pemakaian bahasa non-verbal seperti itu akan dapat
menimbulkan “aura santun” bagi mitra
tutur, terutama dalam bahasa lisan.
G.
Prinsip Kesantuan Dan Prinsip Kerja
Sama Dalam Berkomunikasi
Hasil
penelitian Brown dan Levnison (1978) membuktikan bahwa kesantunan berkaitan dengan nosi “wajah negatif” dan “wajah
positif”. Wajah negatif
terjadi mana kala pendengan merasa “kehilangan muka” ketika mendengar tuturan,
pembicara dapat merasa “terhina” atau “kehilangan harga diri”. Sementara itu,
“wajah positif” merupakan dambaan setiap orang yang terlibat dalam komunikasi.
Sejalan
dengan hasil penelitian Brown dan Levinson di atas, Asim Gunawan (1993) dalam
penelitiannya berjudul “kesantunan direktif di dalam bahasa Indonesia antara
beberapa kelompok etnik di Jakarta” membuktikan bahwa (a) kesantunan merupakan
properti ujaran, (b) santun tidaknya suatu ujaran ditentukan oleh pendengar
atau pembaca, dan (c) kesantunan berkaitan dengan hak dan kewajiban penyerta
interaksi. Ketiga hal di atas dapat di lihat melalui bentuk-bentuk honorifik
yang menunjukkan rasa hormat. Oleh karna itu, dalam bertutur agar
memperlihatkan adanya kesantunan, yang jauh lebih penting adalah (a) apa yang
di tuturkan dan (b) bagaimana cara menuturkannya.
Ahli
lain Leech (1983) menyatakan bahwa kesatuan berbahasa mencangkup serangkaian
maksim atau aturan tertentu. Pertama,
maksim kepedulian, yakni perkecil kerugian dan ketingkatan keuntungan pada orang lain. Suatu tuturan di katakan
santun apabila penutur rasa peduli pada pendengar merasa di perhatikan.
Kedua,
maksim kebaikan hati, yakni perkecil keuntungan pada diri sendiri dan tingkatan
keuntungan pada orang lain. Tentu yang di maksud dengan kerugian dan keuntungan
dalam tuturan tidak sekadar diukur dengan materi. Suatu ukuran di katakan
santun apabila penutur memperhatikan kebaikan hati kepada pendengar dan
pendengar merasakan atas kebaikan hati penutur sehingga merasa diuntungkan .
Ketiga,
maksim penghargaan, yakni
perkecil kekurangan-penghargaan kepada orang lain dan tingkatan penghargaan
pada orang lain. Seorang penutur akan di nilai bertutur secara santun jika
dapat menghargai lawan tutur. Meskipun lawan tutur termasuk bawahan atau rakyat
kecil, tetapi jika penutur bertutur dengan sopan akan sangat di rasakan sebagai
orang yang santun oleh lawan tutur.
Keempat,
maksim kesahajaan, yakni perkecil pujian pada diri sendiri, dan tingkatan
pujian pada orang lain. Untuk memahami suatu tuturan, dalam konsep kesatuan di
jelaskan bahwa ada seperangkat asumsi yang melingkupi dan mengatur kegiatan
percakapan sebagai suatu tindakan berbahasa yaitu berupa prinsip kerja sama
(cooperative prinsiple). Dalam prinsip kerja sama, grice (1975) menyatakan
bahwa agar komunikasi dapat di pahami dengan baik perlu memperhatikan empat
kategori maksim, yaitu :
1. Maksim kuantitas, maksim yang menyatakan bahwa
informasi yang diberikan tidak boleh lebih atau kurang dari apa yang di
inginkan. Contoh:
Tanya : Berapa jumlah penduduk
Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 2001?
Jawab 1 : Sebanyak 210 juta jiwa.
Jawab 2 : Di Jawa sebanyak 85
juta, Sumatra 60 juta, Kalimantan 50 juta ......
Jawaban
1 memenuhi maksi kuantitas, sementara jawaban 2 melanggar maksim kuantitas.
2. Maksim kualitas,
maksim yang menyatakan bahwa setiap informasi yang di berikan harus benar dan
didukung oleh data secara akurat.
Contoh:
-
Tadi malam saya tiba-tiba terbangun dari
tidur dan tahu-tahu almarhum eyang duduk di kursi tamu dan bertanya kepada saya
“mengapa kamu belum tidur, cucuku?”. Mendengar pertanyaan seperti itu saya
jawab “saya masih memikirkan ingin belajar eyang!”
-
Eyangku meninggal 3 tahun yang lalu ketika
saya masih duduk di kelas 3 SMP.
Tuturan di atas memperlihatkan bahwa
contoh pertama melanggar maksim kualitas karna tidak di dukung data sehingga
tidak dapat diverifikasi kebenarannya oleh orang lain. Sementara contoh kedua
memenuhi maksim kualitas karna dapat diverifikasi kebenarannya oleh pihak lain, misalnya melakukan
konfirmasi pada keluarga dekatnya.
3.
Maksim
relevansi, maksim yang menyatakan bahwa pembicaraan harus
selalu ada relevansinya satu sama lain.
Contoh
:
Bu Tatik : Maaf mbakyu, anak saya sekarang sudah
bekerja di perusahaan perkapalan di Surabaya.
Bu Kardi : Anak saya itu kalau pu lang dari Singapura selalu bawa barang-barang
elektronik, di sana katanya murah-murah!
Bu Tatik :
Ternyata di perusahan perkapalan itu kalau akhir tahun membagi premi terimanya bisa sepuluh kali gaji. Besar, lho
itu.
Bu Kardi
: Selain barang elektronik, di
Singapura juga banyak barang selundupan dari Amerika, Inggris, Australia dan
bagus-bagus.
Tuturan
antara Bu Tatik dan Bu Kardi tidak ada keterkaitannya satu sama lain. Meskipun
mereka berbicara, masing-masing berbicara mengenai topik yang berbeda. Dengan
demikian, mereka sebenarnya tidak berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu
tuturan antara Bu Tatik dengan Bu Kardi melanggar maksim relevansi.
4.
Maksim
cara,
maksim yang menyatakan bahwa dalam berkomunikasi yang terpenting di samping
informasi yang ingin disampaikan, juga bagaimana cara menyampaikan informasi.
Contoh
:
-
Saya ke sini mau pinjam uang satu juta
saja, minggu depan kalau sudah ada tak kembalikan lagi ya Mas !
-
Kedatangan saya ke sini sebenarnya hanya
ingin nengok kamas dan mbakyu, karena sudah lama tidak sowan. Tapi kok
kebetulan dapat sowan hanya karena pas ada masalah. Istri saya itu sakit di
rumah sakit sudah tiga minggum berkat doa restu kamas dan mbakyu, sekarang
sudah semboh. Besok pagi sudah boleh diajak pulang. Tapi, saya masih ada
sedikit kerepotan, karena biaya opnamenya besar dan uang persediaan saya tidak
cukup. Jika Kamas dam Mbakyu berkenan dan kebetulan ada, saya mau ngrepoti satu
juta saja, minggu depan saya kondurkan.
Contoh
pertama, penutur tidak memperhatikan maksim cara, sementara penutur kedua
sangat memperhatikan maksim cara.
H.
Nilai Budaya Sebagai Pendukung
Kesantunan Dan Kekomunikatifan Berbahasa
Dengan
sikap rendah hati, berbagai sikap lain akan tumbuh dan berkembang dalam diri
seseorang, seperti tenggang rasa, rasa malu, menjaga perasaan, rasa hormat,
rukun, mau mengalah, mau berkorban, "angon wayah". Semua itu
merupakan nilai yang mampu mendukung kesantunan berbahasa seseorang.
- Sikap Rendah Hati
Sifat
rendah hati sebagai salah satu nilai yang diluhurkan dalam budaya Jawa
merupakan sikap universal manusia. Artinya, manusia di mana pun dapat memiliki
sikap demikian dan dapat memanifestasikannya dalam berkomunikasi.
Sifat
rendah hati muncul karena adanya kesadaran individu maupun masyarakat bahwa
setiap manusia memiliki kekurangan baik kekurangan bawaan maupun kekurangan
akibat pergaulan sosial. Kekurangan itu dapat memengaruhi sikap dan perilaku seseorang
sehingga mereka tidak mau memperlihatkan diri karena "isin" atau
"lingsem" (malu).
Sifat
rendah hati mencerminkan watak halus seseorang karena tidak pernah memuji diri
sendiri di hadapan mitra tutur.
Manifestasi
sifat rendah hati dalam berbahasa dapat dilihat melalui pilihan kata atau gaya
bahasa yang digunakan dalam bertutur. Perhatikan contoh di bawah ini !
a.
Saya
bukan pakar nuklir, tetapi apakah mungkin teknologi nuklir yang perlu
dikembangkan di indonesia bukan untuk keperluam persenjataan, tetapi untuk
pembangkig tenaga listrik, peralatan kedokteran, rekayasa genetika hewan atau
tumbuhan sehingga hasilnya dapat menyejahterakan rakyat. Jika mungkin,
bagaimana mewujudkannya. Barangkali inilah tantangan bagi para ahli nuklir
untuk menerangjelaskam kepada masyarakat.
b. Saya pernah membaca artikel dan
apakah benar bahwa buah-buahan yang kita impor dan selalu kita makan katanya
lebih enak, pakaian bahan katun yang kita pakai katanya lembut dan mudah
menyerap keringat juga hasil rekayasa genetika melalui transgenik yang
memanfaatkan tenaga nuklir. Jika benar dan kita sudah merasakan hasilnya,
bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita dapat memandang positif terhadap
pemanfaatan tenaga nuklir untuk keperluan nonmiliter?
Tuturan diatas
sungguh tidak memperlihatkan bahwa penutur adalah orang yang sombong.
Seandainya yang dikatakan salah, dia telah mengakui bahwa dia memang bukan ahli
nuklir.
- Sikap Empan Papan
Di
samping rendah hati, ada pula sikap empan papan. "Empan papan"
adalah kesanggupan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan tempat dan waktu
dalam bertindak dengan mitra tutur. Sikap ini dianggap sebagai nilai luhur
karena seseorang mampu mengendalikan diri untuk tidak mengganggu orang lain dalam
situasi tertentu yang berbeda dengan situasi normal.
- Sikap Menjaga Perasaan
Dalam
berkomunikasi, masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan pikiran. Meskipun yang
ingin di komunikasikan adalah buah pikiran, tetapi ketika akan menyampaikan
maksud kepada mitra tutur, biasanya terlebih dahulu berusaha menjaga perasaan
dengan menjajaki kondisi psikologis mitra tutue (njaga rasa). Hal ini
dimaksudkan agar komunikasi selalu terjaga kesantunannya. Penjajakan kondisi
psikologis mitra tutur ini dilakukan dengan mengenali "suasama hati"
mitra tutur (angon rasa). Perhatikan
tuturan di bawah ini!
Penutur : Nampaknya bapak sibuk sekali ?
Mitra Tutur : Iya, baru menyelesaikan
proposal hibah
Penutur : O begitu ya pak ?
Mitra Tutur : Ada apa ta mas?
Penutur : Jika tidak mengganggu, saya mau konsultasi
topik penelitian, pak.
Mitra tutur : O ya sudah, kesini sebentar!
Penutur : Apakah
tidak mengganggu Bapak, kalau masih sibuk, nanti juga tidak apa-apa, Pak!
Penutur : Terimakasih, Pak!
Tuturan diatas, penutur terlebih dahulu menjajagi
situasi mitra tutur dengan bertanya. Angon
rasa adalah kesanggupan penutur untuk mengendalikan diri agar maksud yang
ingin disampaikan sesuai dengan suasana hati mitra tutur. Adu rasa yaitu kesanggupan penutur dan mitra tutur untuk saling
“membaca perasaan” untuk mengenali “kesiapan hati” guna melakukan komunikasi.
Komunikasi yang memerlukan angon rasa dan adu rasa adalah kelompok masyarakat
semu Mantri dan esem Bupati. Agar komunikasi semakin santun, penutur akan
menggunakan tuturan tidak langsung kepada mitra tutur dengan harapan mitra
tutur dapat menangkap dan memahami maksud penutur.
- Sikap mau Berkorban
Orang
yang memiliki sikap dan sifat rendah hati adalah orang yang selalu mengutamakan
sikap dan sifat "sepi ing pamrih rame ing gawe", dan "wani
ngalah luhur wekasane". Sifat "sepi ing pamrih rame ing
gawe" adalahb kesanggupan seseorang untuk mau berkorban dengan
mengesampingkan kepentingan diri sendiri dan tetap mau bekerja keras untuk
kepentingan orang lain.
Untuk
menanamkan sifat rendah hati, budaya Jawa telah memberi peringatan agar setiap
manusia selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Peringatan itu
dinyatakan dengan ungkapan aja dumeh dan melik nggendhong lali.
Peringatan aja dumeh diperuntukkan bagi orang yang sedang diberi
kepercayaan memegang kekuasaan agar tidak sewenang-wenang atau "kunawasa"
(sok kuasa). Ungkapan peringatan ini dapat dilengkapi menjadi "aja
dumeh, urip bebasan cakra panggilingan" (jangan sok berkuasa, karena
hidup ibarat roda berputar). Jika orang yang sedang berkuasa berperilaku
sombong, pada suatu saat jika sudah tidak menduduki jabatan akan diejek,
dicemooh, dan tidak dihormati orang. Peringatan ini dilengkapi dengan ungkapan melik
nggendhong lali, karena manusia memiliki sifat bawaan "serakah".
- Sikap Mawas Diri
Alat
memperhatikan pemakaian maksim kesantunan dalam bertutur sebagai berikut yaitu:
a) maksim kebijaksanaan “tact maxim” (berilah keuntungan bagi mitra tutur), b)
maxim kedermawanan “genensity maxim” (maksimalkan kerugian pada diri sendiri),
c) maksimpujian “praise-praise maxim” (maksimalkan pujian kepada mitra tutur),
d) maksim kerendahan hati (minimalkan pujian untuk diri sendiri), e) maksim
kesetujuan (maksimalkan kesetujuan degan mitra tutur, f) maksim simpati
“sympati maxim (maksimalkan ungkapan simpati kepada mitra tutur), g) maksim
pertimbangan “consiheration maxim” (maksimalkan rasa tidak senang pada mitra
tutur dan maksimalkan rasa senang pada mitra tutur).
Pertama,
maksim kebiaksanaan mengamanatkan agar penutur selalu memberikan keunutngan
kepada mitra tutur ketika berkomunikasi. Dalam budaya jawa, prinsip pencak wana
mengamanatkan agar penutur selalu meluhurkan mitra tutur dengan semangat wani
ngalah luhur wakasane. Wani ngalah berarti mau berkorban untuk meluhurkan mitra
tutur.
Kedua,
maksin kedermawanan mengamanatkan agar pewnutur mau merugi kepada mitra tutur.
Maksim seperti itu dalam budaya jawa disebut dalam istilah pradha. Pradha atau
lama (murah hati) berarti kesediaan penutur untuk selalu memberikan sesuatu
yang menjadi milikynya kepada mitra tutur agar mitra tutur menjadi mencukupi kebutuhannya.
Ketiga,
maksim pujian adalah kesediaan peristiwa seluruh memberikan pujian atas
keberhasilan dalam budaya Jawa, maksim pujian ini disebut dengan istilah
pengalembina. Pengalembina selalu ditujukan kepada orang lain atas keberhasilan
atau kelebihan yang dimiliki oleh mitra tutur (oleh karena itu, sifat suka
memuji orang lain akan diibaratkan namanya sebagai orang santun.
Keempat,
maksim kerendahan hati (jangan suka memuji diri sendiri). Hal ini semua sifat
andhap asor dalam budaya Jawa. Seperti sudah diuraikan diatas, andhap asor
orang yang selalu bersedia ngalah. Ngalah (mengalah) bukan berarti kalah.
Masyarakat Jawa percaya bahwa siapa yang mau ngalah pada saatnya justru dia
akan memetik kemenangan (wani ngalah luhur wekasane).
Kelima,
maksim kesetujuan. Artinya usahakan sebanyak mungkin bersepakat dengan mitra
tutur. Jika memang pendapat mitra tutur ada yang tidak disetujui, penutur
disarankan untuk tidak berkonfrontasi. Semasa ini dilakukan dalam rangka
menjaga krharmonisan hubungan dengan mitra tutur. Mungkin sikap yang pas adalah
diam atau cukup tersenyum.
Keenam,
maksim simpati (nyatakan perasaan bahwa penutur memberikan apresiasi positif
terhadap yang dilakukan mitra tutur). Simpati adalah ungkapan perasaan positif
terhadap mitra tutur karena mitra tutur telah melakukan sesuatu yang membuat
berkenan si penutur.
Ketujuh,
maksim pertimbangan adalah maksim yang menyatakan bahwa penutur hendaknya
meminimalkan perasaan tidak senang dan memaksimalkan perasaan orang kepada
mitra tutur. Dalam budaya Jawa, maksim ini sering diungkapkan dengan “nggawe
lega” (membuat puas). Untuk apa berselisih paham jika sesuatu yang
diperdebatkan bukan hal yang bersifat
substansial. Seandainya terdapat perbedaan prinsip hendaknya tidak dinyatakan
secara terbuka tetapi cukup diberi pandangan lain agar mitra tutur “mulat salira” sendiri.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.1.1
Penggunaan
Bahasa
Berbahasa
secara komunikatif berarti cara menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi-fungsi
komunikasi bahasa agar mudah di pahami oleh pendengar atau pembaca.
3.1.2
Kegiatan
Berkomunikasi
Ketika
mengemas gagasan, seseorang harus memperhatikan beberapa hal (Hymes, 1989),
yaitu :
1)
Situation
2)
Participant
3)
Ends (tujuan)
4)
Addresee (mitra komunikasi)
5)
Keys (kunci)
6)
Instruments
7)
Norms (norma/kaidah)
8)
Genre (ragam/corak bahasa)
Faktor-faktor
yang sering menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan pesan antara lain
:
a.
Topik pembicaraan tidak dipilih secara terfokus.
b.
Gagasan dari topik yang dipilih tidak ditata secara
sistematis.
c.
Alur pikiran tidak ditata secara logis.
d.
Pemakaian bahasa tidak dikembangkan secara kreatif,
dan
e.
Kurang terlatih mengungkapkan gagasan secara lisan
maupun tertulis.
Ada faktor
lain diluar kebahasaan, tetapi selalu merasuk dalam pemakaian bahasa, seperti
dibawah ini :
a.
Menyembunyikan maksud dengan tidak mengungkapkan
secara langsung demi menjaga kesopanan.
b.
Mengalihkan pembicaraan demi menjaga perasaan mitra
tutur.
c.
Membantah tuturan demi menghindari rasa malu, dan
sebagainya.
3.1.3
Fungsi
Komunikatif Bahasa
Fungsi bahasa
adalah cara bagaimana bahasa itu digunakan. Dengan demikian, fungsi komunikatif
bahasa adalah bagaimana cara bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi. Pranowo
(1988) mengidentifikasikan fungsi komunikatif bahasa menjadi 11 (sebelas)
macam, sebagai berikut :
1)
Fungsi informatif
2)
Fungsi transaksional
3)
Fungsi interaksional
4)
Fungsi komisif
5)
Fungsi derektif
6)
Fungsi konatif
7)
Fungsi ekspresif
8)
Fungsi regulatory
9)
Fungsi heuristik
10)
Fungsi instrumental
11)
Fungsi imajinatif
3.1.4
Faktor
Penentu Kesantunan
Faktor penentu kesantunan adalah
segala hal yang dapat memengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun atau tidak
santun. Faktor penentu kesantunan dari aspek kebahasaan dapat diidentifikasi
sebagai berikut (Bagian ini diambil dari buku Berbahasa Secara Santun, Pranowo, 2009).
Aspek penentu
kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain, aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang
berbicara), aspek nada bicara
(berkaitan dengan suasana emosi penutur : nada resmi, nada bercanda atau
bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor
pilihan kata, dan faktor struktur
kalimat.
3.1.5
Faktor Yang Dapat Menggagalkan
Komunikasi
Banyak faktor yang
menyebabkan komunikasi dapat gagal antara lain, a) mitra tutur tidak memiliki
informasi lama sebagai dasar memahami informasi baru yang disampaikan penutur,
b) mkitra tutur tidak tertarik dengan isi informasi yang disampaikan penutur,
c) mitra tutur tidak berkenan dengan cara menyampaikan informasi si penutur, d)
apa yang diinginkan memang memang tidak ada atau tidak dimiliki oleh mitra tutur,
e) mitra tutur tidak memahami yang dimaksud oleh penutur, dan f) jika menjawab
petanyaan, mitra tutur justru melanggar kode etik.
3.1.6
Faktor Kebahasaan Sebagai Penanda
Kesantunan
Faktor yang menentukan santun tidaknya
pemakaian bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu faktor kebahasaan dan faktor
non kenahasaan. Faktor kebahasaan yang dimaksud adalah segala unsur yang
berkaitan dengan masalah bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa non verbal.
Faktor kebahasaan verbal yang dapat menentukan kesantunan dapat dideskripsikan
sebagai berikut.
1.
Pemakaian Diksi
2.
Pemakaian Gaya
Bahasa
3.1.7
Prinsip Kesantuan Dan Prinsip Kerja
Sama Dalam Berkomunikasi
Ahli lain Leech (1983) menyatakan bahwa
kesatuan berbahasa mencangkup serangkaian maksim atau aturan tertentu. Pertama, maksim kepedulian, yakni
perkecil kerugian dan ketingkatan keuntungan pada orang lain. Suatu tuturan di katakan
santun apabila penutur rasa peduli pada pendengar merasa di perhatikan.
Kedua,
maksim kebaikan hati, yakni perkecil keuntungan pada diri sendiri dan tingkatan
keuntungan pada orang lain.
Ketiga,
maksim penghargaan, yakni
perkecil kekurangan-penghargaan kepada orang lain dan tingkatan penghargaan
pada orang lain.
Keempat,
maksim kesahajaan, yakni perkecil pujian pada diri sendiri, dan tingkatan
pujian pada orang lain.
Dalam prinsip kerja sama, grice (1975)
menyatakan bahwa agar komunikasi dapat di pahami dengan baik perlu
memperhatikan empat kategori maksim, yaitu :
1. Maksim kuantitas, maksim yang menyatakan bahwa
informasi yang diberikan tidak boleh lebih atau kurang dari apa yang di
inginkan.
2. Maksim kualitas,
maksim yang menyatakan bahwa setiap informasi yang di berikan harus benar dan
didukung oleh data secara akurat.
3. Maksim relevansi,
maksim yang menyatakan bahwa pembicaraan harus selalu ada relevansinya satu
sama lain.
4. Maksim cara,
maksim yang menyatakan bahwa dalam berkomunikasi yang terpenting di samping
informasi yang ingin disampaikan, juga bagaimana cara menyampaikan informasi.
3.1.8
Nilai Budaya Sebagai Pendukung
Kesantunan Dan Kekomunikatifan Berbahasa
1.
Sikap Rendah
Hati
2.
Sikap Empan
Papan
3.
Sikap Menjaga
Perasaan
4.
Sikap mau
Berkorban
5.
Sikap Mawas Diri
3.2 Saran
1.
Bagi Mahasiswa
Dalam
penulisan makalah yang berjudul “Berbahasa Secara
Komunikatif dan
Santun”. Penulis
mengharapkan agar seluruh mahasiswa STKIP PGRI Pasuruan, khususnya Prodi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengerti dan memahami mengenai materi ini.
2.
Bagi Dosen
Dalam
penulisan makalah yang berjudul “Berbahasa
Secara Komunikatif dan
Santun”. Penulis
mengharapkan agar kedepannya mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih baik karena
banyaknya literatur yang digunakan.
3.
Bagi Perspustakaan
Dalam
penulisan makalah yang berjudul “Berbahasa
Secara Komunikatif dan
Santun”. Penulis dituntut untuk banyak
membaca serta mengumpulkan beberapa informasi untuk dijadikan referensi makalah.
Akan tetapi karena kurangnya literatur yang ada di perpustakaan, kesulitan
dalam mencari sumber. Penulis mengharapkan agar perpustakaan menambah literatur
untuk mempermudah dalam mencari informasi serta sumber.
DAFTAR PUSTAKA
Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://pujirokhayanti999.blogspot.co.id/2014/05/makalah-tentang-santun-berbahasa.html
Komentar
Posting Komentar