Langsung ke konten utama

CONTEXSTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PBI

“CONTEXSTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PBI”

Dosen pengampu :
M. Bayu Firmansyah, M.Pd







Disusun Oleh :

Lailatul Fitria (16188201046)



Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
2016-2017



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang...............................................................................................................
1.2    Rumusan Masalah..........................................................................................................
1.3    Tujuan............................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian CTL.............................................................................................................
2.2  Aneka pendekatan dalam PBI........................................................................................
2.3  CTL membangun pemikir kritis dan kreatif.................................................................
2.4  Membangun semangat pembelajar...............................................................................
2.5  Meningkatkan daya serap pembelajar..........................................................................
2.6  Model CTL bahasa Indonesia.......................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1  Simpulan.......................................................................................................................
3.2  Saran.............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................




KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah – Nya kepada kita sekalian, sehingga dalam kehidupan kita dapat berkarya serta melaksanakan tugas dan kewajiban di bidang masing – masing. Semoga kita semua selalu mendapat petunjuk dan perlindungan – Nya sepanjang masa. Dan dalam pada itu dengan izin – Nya, Alhamdulillah niat dan tekad saya untuk menyelesaikan penyusunan Makalah Tentangcontexstual teaching and learning dalam PBI dapat tersusun dengan baik.
Makalah ini di susun dengan bahasa yang sederhana dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai teori yang di bahas. Kendati demikian, tak ada gading yang tak retak. Saya menyadari bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu saya terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya, saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.


Pasuruan, 14 Desember 2017

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fakta dalam kehidupan siswa. CTL lebih menekankan pada rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Rencana kegiatan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari. Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi belajar bukan hasil belajar. Pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa untuk memperoleh materi pelajaran meskipun sedikit tetapi mendalam bukan banyak tetapi dangkal.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual.
1.2    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini penulis merumuskan beberapa masalah berikut :
1)      Apa pengertian CTL?
2)      Apa saja aneka pendekatan dalam PBI?
3)      Bagaimana CTL membangun pemikir kritis dan kreatif?
4)      Bagaimana membangun semangat pembelajar?
5)      Bagaimana meningkatkan daya serap pembelajar?
6)      Bagaimana model CTL bahasa Indonesia?
1.3    Tujuan
Adapun tujuan dari penulis membuat makalah ini sebagai berikut :
1)      Mendeskripsikan pengertian CTL.
2)      Mendeskripsikan aneka pendekatan dalam PBI.
3)      Mendeskripsikan CTL membangun pemikir kritis dan kreatif.
4)      Menjelaskan membangun semangat pembelajar.
5)      Mendeskripsikan meningkatkan daya serap pembelajar
6)      Mendeskripsikan model CTL bahasa Indonesia



BAB II
PEMBAHASAN

2.1    PENGERTIAN CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau belajar dan mengajar berdasarkan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri pembelajar. Yang ingin dibangun dalam CTL adalah perkembangan pikiran pembelajar sesuai dengan perkembangan (baca: mempercepat perkembangan longtermmemory), pembelajar harus dihadapkan dengan ralita yang ada di sekitarnya untuk memahami konsep-konsep teoritis dan akademis.
Pembelajar kontekstual menjadi fokus perhatian para ahli pengajaran sejak pembelajaran berubah paradigma dari berfokus pada pengajar ke berfokus pada pembelajar. Paradigma pembelajaran berfokus pada pembelajar memberikan ruang gerak kepada pembelajar untuk belajar sesuai dengan perkembangan kognisinya dan belajar sesuai dengan konteks tempat belajarnya. Pembelajar berfokus pada pembelajar memberikan konsep berpikir bahwa pembelajar harus dibawa ke basis pemikiran lokal tetapi ditumbuhkembangkan ke wawasan berpikir global. Implementasinya dalam pembelajaran, pembelajar harus diakrabkan dengan materi-materi yang ada di dunia sekelilingnya tetapi harus ditumbuhkembangkan ke pola pikir yang bersifat mendunia.
2.2    ANEKA PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pembelajar bahasa Indonesia dewasa ini memperkenalkan berbagai pendekatan, yaitu sebagai berikut :
(1)   Pendekatan komunikatif
Diperkenalkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia sejak kurikulum 1994 muncul. Pendekatan ini digunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada pembelajar. Konsep pendekatannya adalah bahwa bahasa diasumsikan sebagai alat komunikasi.
(2)   Pendekatan konstruktivisme
Mulai muncul secara eksplisit dalam kurikulum 2004. PK berasumsi bahwa setiap pembelajar mampu belajar dengan mengkonstuk rumusan kebenaran berdasarkan perkembangan pikirannya. PK ini digunakan untuk mendasari pemilihan materi seperti apa yang sesuai dengan tahap perkembangan pikiran pembelajar.PK digunakan untuk melihat tahap perkembangan pikiran pembelajar.
(3)   Pendekatan CTL
Pendekatan CTL berasusmsi bahwa konteks belajar menjadi sangat penting dalam belajar pembelajar, termasuk konteks belajar bahasa. CTL lebih memberikan warna pada pentingnya menciptakan atmosfer belajar bagi pembelajar sehingga ketika pembelajar belajar tidak merasa asing dengan sesuatu yang sedang dipelajari.

2.3    CTL MEMBANGUN PEMIKIR KRITIS DAN KREATIF
Pemikir kritis adalah pemikir yang mampu berpikir secara sistematis untuk menemukan kebenaran dengan mengevaluasi bukti-bukti, asumsi, logika, dan bahasa orang lain yang mendasari pernyataan orang lain tersebut. Seorang pemikir kritis memiliki ciri penanda sebagai berikut :
1.      Mampu mengidentifikasi masalah
Untuk dapat mengidentifikasi fenomena sebagai masalah membutuhkan pemikir kritis, bukan orang kritis. Pemikir kritis akan mampu melihat fenomena yang memiliki kemungkinan untuk menjadi masalah dan fenomena yang benar-benar tetap sebagai gejala.
2.      Mampu menentukan sudut pandang
Setiap persoalan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sekian banyak sudut pandang, hanya ada sudut pandang yang memberikan peluang untuk dapat dipakai sebagai titik pijak melihat alternatif pemecahan pada saat itu yang sesuai dengan konteks dan situasinya.
3.      Mampu mengajukan alasan
Setiap alternatif pemecah masalah membutuhkan argumentasi mengapa alternatif pemecahan masalah tertentu dipilih dan mengapa bukan alternatif yang lain. Alasan-alasan itu hanya dapat dilihat oleh seorang pemikir kritis karena kemampuannya melihat banyak pilihan dan harus hanya memilih salah satu saja. Kemampuan melihat satu alternatif pemecahan masalah disertai dengan bebrbagai risiko jika alternatif lain yang harus dipilih.
4.      Mampu mengemukakan asumsi-asumsi
Untuk memecahkan masalah seseorang harus berawal dari asumsi (berbagai dasar pemikiran) yang mungkin dapat dikembangkan sebagai dasar teori untuk memecahkan masalah. Hal ini perlu dilakukan karena seorang pemikir kritis biasanya berpikir mengenai sesuatu yang sebelumnya belum dilakukan oleh orang lain.
5.      Mampu menggunakan bahasa dengan jelas
Seorang pemikir kritis mampu menggunakan bahasa secara efektif. Bahasa efektif yaitu bahasa yang kalimat-kalimatnya mampu mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis dan sanggup menarik perhatian pembaca terhadap pokok masalah yang dibicarakan.
6.      Mampu mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan
Setiap pemikiran memerlukan bukti pendukung. Bukti pendukung dapat berupa data, contoh-contoh, ilustrasi yang dapat meyakinkan orang lain bahwa pemikiran yang dikemukakan memang benar.
7.      Mampu menarik kesimpulan
Kesimpulan merupakan bagian akhir dari pemikiran yang bermaksud untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa seseorang telah sampai pada titik tertentu dalam membahas suatu pokok masalah. Hal ini menjadi penting karena seseorang memberikan informasi kepada orang lain jika ada yang tertarik untuk menindaklanjuti pemikirannya.
8.      Mampu melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil
Implikasi merupakan sesuatu yang terkait secara tersirat dengan persoalan lain yang relevan dengan pokok masalah yang telah disimpulkan. Seorang pemikir kritis tidak hanya melihat hasil pemikirannya dengan sesuatu yang secara langsung berkaitan dengan masalah yang dibicarakan, tetapi melihat lebih jauh ke depan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada masalah lain.

2.4    MEMBANGUN SEMANGAT PEMBELAJAR
CTL ingin membangun pembelajaran yang muatan akademisnya berkaitan dengan konteks kehidupan pembelajar sehari-hari. Konteks kehidupan sehari-hari menjadi sangat penting karena mampu merangsang sel-sel sarat otak untuk membentuk jalan menuju ke pemahaman akademis yang lebih bermakna mengenai suatu konsep berpikir tertentu.
Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar CTL mampu mencapai keberhasilan belajar dengan standar tinggi, yaitu :

a)      Prinsip saling ketergantungan
Tidak ada masalah di alam semesta yang berdiri sendiri. Satu sama lain saling bergantung dan saling memengaruhi sehingga alam semesta dapat bergerak berdasarkan suatu sistem yang teratur. Ketika seorang pengajar masuk ke kelas, mestinya juga berpikir apakah pembelajar saya akan saya bawa ke hukum alam semesta yang bersifat universal dan saling bergantung ataukah justru saya jauhkan dari pengaruh hukum alam yang saling bergantung satu sama lain?
Pembelajaran di sekolah juga berlaku hukum saling ketergantungan dalam arti bahwa seorang pembelajar akan menjadi semakin maju dalam belajar apabila ada pajanan (exposure) dari pembelajar lain. Setiap pembelajar sebenarnya bergantian saling mengisi pembelajar lain sehingga secara alamiah mereka akan terus tumbuh dan berkembang bersama-sama.
b)     Prinsip pembelajaran mandiri dan kerja sama
Sifat alami seorang anak dalam perkembangannya selalu menuju ke kemandirian dalam bertindak dan mengambil keputusan. CTL berpandangan bahwa sifat mandiri dan kerja sama yang alami justru akan membawa pembelajar pada tumbuhnya rasa percaya diri dan kesadaran bahwa keberhasilan merupakan kesuksesan bersama. Sifat kemandirian adalah potensi besar utnuk menggali minat-minat baru, semangat baru, motivasi baru untuk menyesuaikan dengan lingkungan hidup mereka.
c)      Prinsip kebermaknaan dalam belajar
Pendekatan CTL menanamkan pemahaman kepada pembelajar bahwa belajar bukan sekedar memahami informasi, tetapi pemberian makna terhadap informasi yang dipelajari dengan kebutuhan hidup dalam konteks yang sesungguhnya.
d)     Prinsip berpikir kritis dan kreatif
Berpikir kritis dan kreatif ibarat sekeping mata uang logam, memiliki dua wajah yang dapat dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan. Berpikir kritis yaitu berpikir secara sistematis untuk menemukan kebenaran dengan mengevaluasi bukti-bukti, asumsi, logika, dan bahasa orang lain yang mendasari pernyataannya.Berpikir kreatif adalah berpikir untuk mencari kesempatan mengubah sesuatu menjadi lebih baik.
e)      Prinsip penilaian secara autentik
Penilaian autentik memberikan tantangan kepada pembelajar untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan yang bermakna. Penilaian autentik memberikan peluang kepada pembelajar untuk memperlihatkan kemampuan terbaik mereka sambil memperlihatkan apa yang sudah mereka pelajari.

2.5    MENINGKATKAN DAYA SERAP PEMBELAJAR
Ada beberapa kiat pembelajaran yang dapat meningkatkan daya serap pembelajar. Sheal, Peter, 1989 (dalam Puskur, 2000) mengemukakan bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat dan dengar, 50% jika pembelajar terlibat dalam diskusi, 70% jika pembelajar melakukan presentasi, 90% jika pembelajar terlibat dalam bemain peran, melakukan simulasi, dan mengerjakan hal yang nyata. Berdasarkan penelitian tersebut, mestinya pengajar menghindari kegiatan pengajaran dengan memberi ceramah, dan memperbanyak pemberian kesempatan kepada pembelajar untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya.
Komponen pembelajar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) komponen pokok meliputi pengajar, materi, dan pembelajar, dan (b) komponen penunjang meliputi metode, teknik, strategi, dan media pembelajaran. Hubungan masing-masing komponen tersebut mengarah ke pencapaian kompetensi belajar pembelajar.
2.6    MODEL CTL BAHASA INDONESIA
Desain pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan pendekatan CTL dirancang berdasarkan komponen-komponen pembelajaran pada umumnya. Yang membedakan adalah asumsi-asumsi teoretis yang dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan pembelajaran. Pendekatan konstekstual berasumsi bahwa konteks alami tempat pembelajar belajar merupakan pijakan utama dalam pembelajaran. Desain pembelajaran secara kontekstual tersebut dapat dirancang dengan memperhatikan komponen pembelajaran sebagai berikut :
1.      Pemilihan materi
Pembelajar bahasa dan sastra Indonesia harus memilih materi yang tidak jauh dengan lingkungan hidup pembelajar. Materi pembelajaran harus dikemas dalam bentuk problem solving (pemecahan masalah) sehingga memungkinkan pembelajar untuk mengemukakan pendapat pribadi secara argumentatif yang didukung dengan data serta argumen-argumen yang lain. materi pembelajaran yang secara kontekstual hendaknya diberikan secara beragam sehingga pembelajar diperkenalkan dengan aneka ragam konteks kehidupan.
2.      Metode pembelajaran
Metode pembelajaran berdasarkan pendekatan CTL harus memberikan peluang kepada pembelajar untuk bekerja sama dengan pembelajar lain agar terjadi tukar-menukar gagasan (berdiskusi) untuk saling beradu argumen sehingga pembelajar terbiasa untuk menerima atau memberi sumbangan pikiran orang lain. hal ini sangat penting karena dengan terbiasa menerima pendapat orang lain atau memberikan sumbangan pemikiran kepada orang lain akan tumbuh sikap saling menghargai, memberi, dan menerima.
3.      Teknik pembelajaran
(a)    Membentuk kelompok diantara pembelajar
Mereka saling bertukar informasi mengenai apa yang dirasakan dalam situasi alamiah.
(b)   Berbagi tugas di antara pembelajar
Setiap pembelajar mendapatkan tugas untuk saling mengidentifikasi objek di suatu tempat. Setiap pembelajar melaporkan hasil identifiasinya untuk dicermati oleh pembelajar lain dan kemudian saling memberikan tanggapan dan komentar. Tanggapan dan komentar setiap pembelajar disimpulkan bersama sehingga semua pembelajar memiliki persepsi yang sama mengenai hasil identifikasi objek yang diamati.
(c)    Saling membantu di antara pembelajar
Setiap pembelajar diberi kasus suatu peristiwa dalam masyarakat yang berbeda-beda untuk dipecahkan.
(d)   Saling memberi semangat untuk sukses bersama
Setiap pembelajar diberi kesadaran bahwa didunia ini tidak ada satu masalah pun yang dapat dipecahkan sendirian. Setiap masalah pasti membutuhkan sumbangan berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, pembelajar sejak dini harus diberi kesempatan untuk membuat proyek agar dapat diselesaikan secara bersama-sama dalam bentuk tim.
4.      Strategi pembelajaran
Strategi adalah siasat yang harus dilakukan oleh pembelajar agar tujuam belajar dapat tercapai secara efektif dan efisien. Jika teknik belajar yang dipilih adalah saling membantu di antara pembelajar, strategi yang dapat dipilih antara lain (1) saling memberi dukungan untuk keberhasilan, (2) saling memberi kritik, saran, dan masukan, (3) masing-masing pembelajar selalu siap menerima kritik, saran, dan masukan sebagai dorongan untuk sukses bersama, (4) setiap pembelajar harus merasakan dan menyadari bahwa andil pembelajar lain harus dihargai sebagai kontributor yang sangat signifikan dalam mencapai suatu keberhasilan.
5.      Media pembelajaran
Desain pembelajaran dengan CTL harus memberikan peluang untuk memilih media yang memungkinkan digunakannya media pembelajaran sesuai dengan konteks dan situasi belajar pembelajar.
6.      Interaksi belajar mengajar
Interaksi belajar mengajar dengan CTL hendaknya memberikan kemungkinan kepada pembelajar untuk mengemukakan pemikiran-pemikiran inkonvensional sehingga pemikiran kritis dan kreatif pembelajar dapat terakomodasi dengan baik. Ketika pengajar minta kepada pembelajar agar memecahkan masalah sesuai dengan pendapat pribadi pembelajar, pengajar harus mengakomodasi pendapat-pendapat yang secara logis tidak masuk akal tetapi secara argumentatif dapat diterima akal sehat.
7.      Penilaian hasil belajar
Penilaian hasil belajar dengan CTL disarankan menggunakan penilaian autentik. Artinya, penilaian dengan non-tes, seperti portofolio, proyek, untuk kerja adalah bentuk penilaian tepat untuk pembelajaran berdasarkan pendekatan CTL.



BAB III
PENUTUP

3.1   Simpulan
3.1.1        Pengertian ctl
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau belajar dan mengajar berdasarkan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri pembelajar.
3.1.2        Aneka pendekatan dalam pembelajaran bahasa indonesia
(1)   Pendekatan komunikatif
(2)   Pendekatan konstruktivisme
(3)   Pendekatan CTL
3.1.3        CTL membangun pemikir kritis dan kreatif
1.      Mampu mengidentifikasi masalah
2.      Mampu menentukan sudut pandang
3.      Mampu mengajukan alasan
4.      Mampu mengemukakan asumsi-asumsi
5.      Mampu menggunakan bahasa dengan jelas
6.      Mampu mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan
7.      Mampu menarik kesimpulan
8.      Mampu melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil
3.1.4        Membangun semangat pembelajar
Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar CTL mampu mencapai keberhasilan belajar dengan standar tinggi, yaitu :
a)      Prinsip saling ketergantungan
b)      Prinsip pembelajaran mandiri dan kerja sama
c)      Prinsip kebermaknaan dalam belajar
d)     Prinsip berpikir kritis dan kreatif
e)      Prinsip penilaian secara autentik
3.1.5        Meningkatkan daya serap pembelajar
Ada beberapa kiat pembelajaran yang dapat meningkatkan daya serap pembelajar. Sheal, Peter, 1989 (dalam Puskur, 2000) mengemukakan bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat dan dengar, 50% jika pembelajar terlibat dalam diskusi, 70% jika pembelajar melakukan presentasi, 90% jika pembelajar terlibat dalam bemain peran, melakukan simulasi, dan mengerjakan hal yang nyata. Berdasarkan penelitian tersebut, mestinya pengajar menghindari kegiatan pengajaran dengan memberi ceramah, dan memperbanyak pemberian kesempatan kepada pembelajar untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya.
3.1.6        MODEL CTL BAHASA INDONESIA
1.      Pemilihan materi
2.      Metode pembelajaran
3.      Teknik pembelajaran
4.      Strategi pembelajaran
5.      Media pembelajaran
6.      Interaksi belajar mengajar
7.      Penilaian hasil belajar

3.2   Saran
1)      Bagi Mahasiswa
Dalam penulisan makalah yang berjudul contexstual teaching and learning dalam PBI, penulis mengharapkan agar seluruh mahasiswa memahami materi yang sudah dijelaskan diatas.
2)      Bagi Dosen
Dalam penulisan makalah yang berjudul contexstual teaching and learning dalam PBI, penulis mengharapkan agar kedepannya mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia (MPBI) menjadi lebih baik karena sudah ada literatur yang digunakan.
3)      Bagi Perspustakaan
Dalam penulisan makalah yang berjudul contexstual teaching and learning dalam PBI, penulis dituntut untuk banyak membaca serta mengumpulkan beberapa informasi. Penulis mengharapkan agar perpustakaan menambah literatur untuk mempermudah dalam mencari informasi serta sumber.


DAFTAR PUSTAKA
Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
https://www.google.com.hk/search?hl=in-ID&source=android-browser&ei=07s0WqCmAYGu0gS1kaDwDw&q=latar+belakang+contextual+teaching+and+learning+dalam+pembelajaran+bahasa+indonesia&oq=latar+belakang+contextual+teaching+and+learning+dalam+pembelajaran+bahasa+indonesia&gs_l=mobile-gws-serp.3...6665.16152.0.16908.38.38.0.0.0.0.277.6873.1j26j10.37.0....0...1c.1.64.mobile-gws-serp..1.21.4118...0i22i30k1j33i21k1j33i160k1j30i10k1.0.kwBQqEl3Bys



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS PUISI CHAIRIL ANWAR CINTAKU JAUH DI PULAU

ESTETIKA SASTRA Dosen pembimbing : Drs. M. Zaini, M.Pd Disusun Oleh : Lailatul Fitria (16188201046) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI PASURUAN Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan 2016-2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Sastra berasal dari bahasa Sansekerta, huruf Dewanagari yang berasal dari kata su dan sastra . Su artinya indah dan sastra artinya karya, jadi yang dimaksud dengan sastra adalah karya yang indah. Karya sastra dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : puisi, prosa, dan drama. Saya akan menganalisis karya sastra yang berupa puisi dengan judul “Cintaku jauh di pulau” . Ketika menulis puisi “Cintaku jauh di pulau” . Chairil Anwar menceritakan kasih tak sampai dengan pengorbanan yang sangat besar, yaitu ajal. Alasan saya memilih puisi “Cintaku jauh di pulau” karya Chairil Anwar adalah karena saya juga merasakan kesedihan, pengorbanan si aku untuk sampai pada kekasihnya yang manis di pula...

BERBAHASA SECARA KOMUNIKATIF DAN SANTUN

“BERBAHASA SECARA KOMUNIKATIF DAN SANTUN” Dosen pengampu : M. Bayu Firmansyah, M.Pd   Disusun Oleh : Lailatul Fitria (16188201046) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI PASURUAN Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan 2016-2017 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................................................. .. DAFTAR ISI............................................................................................................................ ... BAB I PENDAHULUAN 1.1     Latar Belakang............................................................................................................... .. 1.2     Rumusan Masalah.......................................................................................................... .. 1.3     Tujuan.....................

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

“ FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR ” Dosen pengampu : M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd Disusun Oleh : Lailatul Fitria         (16188201046) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI PASURUAN Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan 2019 Pemilihan strategi pembelajaran memuat dua hal penting, yakni pemilihan strategi belaajr yang harus dilakukan peserta didik dan pemilihan strategi mengajar yang harus dilakukan pengajar. Strategi belajar mengacu pada perilaku dan orises veroikir yang digunakan peserta didik yang mempengaruhi apa yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Sedangkan, strategi mengajar berkaitan dengan pendekatan, metode, dan teknik yang dikuasai dan digunakan pengajar dalam pembelajaran. A.       KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK             Peserta didik sebagai ...