“CONTEXSTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PBI”
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Lailatul Fitria (16188201046)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
2016-2017
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..............................................................................................................
DAFTAR
ISI............................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang...............................................................................................................
1.2 Rumusan
Masalah..........................................................................................................
1.3 Tujuan............................................................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
CTL.............................................................................................................
2.2 Aneka
pendekatan dalam
PBI........................................................................................
2.3 CTL
membangun pemikir kritis dan kreatif.................................................................
2.4 Membangun
semangat
pembelajar...............................................................................
2.5 Meningkatkan
daya serap
pembelajar..........................................................................
2.6 Model
CTL bahasa
Indonesia.......................................................................................
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan.......................................................................................................................
3.2 Saran.............................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................................
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat
Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah – Nya kepada kita
sekalian, sehingga dalam kehidupan kita dapat berkarya serta melaksanakan tugas
dan kewajiban di bidang masing – masing. Semoga kita semua selalu mendapat
petunjuk dan perlindungan – Nya sepanjang masa. Dan dalam pada itu dengan izin
– Nya, Alhamdulillah niat dan tekad saya untuk menyelesaikan penyusunan Makalah Tentang “contexstual
teaching and learning dalam PBI” dapat tersusun dengan baik.
Makalah ini di susun dengan bahasa yang
sederhana dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai teori yang di
bahas. Kendati demikian, tak ada gading yang tak retak. Saya menyadari bahwa
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu saya
terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang konstruktif dari
semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya, saya berharap semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Pasuruan, 14 Desember 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Contextual
Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fakta dalam kehidupan siswa. CTL
lebih menekankan pada rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Rencana
kegiatan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan
dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari.
Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi belajar bukan hasil
belajar. Pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa untuk memperoleh materi
pelajaran meskipun sedikit tetapi mendalam bukan banyak tetapi dangkal.
Pembelajaran
kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran
kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar,
pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas
menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas
tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini penulis merumuskan beberapa masalah
berikut :
1) Apa
pengertian CTL?
2) Apa saja
aneka pendekatan dalam PBI?
3) Bagaimana
CTL membangun pemikir kritis dan kreatif?
4) Bagaimana
membangun semangat pembelajar?
5) Bagaimana
meningkatkan daya serap pembelajar?
6) Bagaimana
model CTL bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulis membuat makalah ini sebagai berikut :
1) Mendeskripsikan
pengertian CTL.
2) Mendeskripsikan
aneka pendekatan dalam PBI.
3) Mendeskripsikan
CTL membangun pemikir kritis dan kreatif.
4) Menjelaskan
membangun semangat pembelajar.
5) Mendeskripsikan
meningkatkan daya serap pembelajar
6) Mendeskripsikan
model CTL bahasa Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
CTL
Contextual
Teaching and Learning (CTL) atau belajar dan mengajar berdasarkan pendekatan
kontekstual adalah pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar
belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri pembelajar. Yang ingin
dibangun dalam CTL adalah perkembangan pikiran pembelajar sesuai dengan
perkembangan (baca: mempercepat perkembangan longtermmemory), pembelajar harus dihadapkan dengan ralita yang ada
di sekitarnya untuk memahami konsep-konsep teoritis dan akademis.
Pembelajar
kontekstual menjadi fokus perhatian para ahli pengajaran sejak pembelajaran
berubah paradigma dari berfokus pada pengajar ke berfokus pada pembelajar.
Paradigma pembelajaran berfokus pada pembelajar memberikan ruang gerak kepada
pembelajar untuk belajar sesuai dengan perkembangan kognisinya dan belajar
sesuai dengan konteks tempat belajarnya. Pembelajar berfokus pada pembelajar
memberikan konsep berpikir bahwa pembelajar harus dibawa ke basis pemikiran
lokal tetapi ditumbuhkembangkan ke wawasan berpikir global. Implementasinya
dalam pembelajaran, pembelajar harus diakrabkan dengan materi-materi yang ada
di dunia sekelilingnya tetapi harus ditumbuhkembangkan ke pola pikir yang
bersifat mendunia.
2.2
ANEKA
PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pembelajar
bahasa Indonesia dewasa ini memperkenalkan berbagai pendekatan, yaitu sebagai
berikut :
(1) Pendekatan
komunikatif
Diperkenalkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia
sejak kurikulum 1994 muncul. Pendekatan ini digunakan untuk mengajarkan bahasa
Indonesia kepada pembelajar. Konsep pendekatannya adalah bahwa bahasa
diasumsikan sebagai alat komunikasi.
(2) Pendekatan
konstruktivisme
Mulai muncul secara eksplisit dalam kurikulum 2004.
PK berasumsi bahwa setiap pembelajar mampu belajar dengan mengkonstuk rumusan
kebenaran berdasarkan perkembangan pikirannya. PK ini digunakan untuk mendasari
pemilihan materi seperti apa yang sesuai dengan tahap perkembangan pikiran
pembelajar.PK digunakan untuk melihat tahap perkembangan pikiran pembelajar.
(3) Pendekatan
CTL
Pendekatan CTL berasusmsi bahwa konteks belajar
menjadi sangat penting dalam belajar pembelajar, termasuk konteks belajar
bahasa. CTL lebih memberikan warna pada pentingnya menciptakan atmosfer belajar
bagi pembelajar sehingga ketika pembelajar belajar tidak merasa asing dengan
sesuatu yang sedang dipelajari.
2.3
CTL
MEMBANGUN PEMIKIR KRITIS DAN KREATIF
Pemikir
kritis adalah pemikir yang mampu berpikir secara sistematis untuk menemukan
kebenaran dengan mengevaluasi bukti-bukti, asumsi, logika, dan bahasa orang
lain yang mendasari pernyataan orang lain tersebut. Seorang pemikir kritis
memiliki ciri penanda sebagai berikut :
1.
Mampu
mengidentifikasi masalah
Untuk dapat mengidentifikasi fenomena sebagai masalah
membutuhkan pemikir kritis, bukan orang kritis. Pemikir kritis akan mampu
melihat fenomena yang memiliki kemungkinan untuk menjadi masalah dan fenomena
yang benar-benar tetap sebagai gejala.
2.
Mampu
menentukan sudut pandang
Setiap persoalan dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang. Dari sekian banyak sudut pandang, hanya ada sudut pandang yang
memberikan peluang untuk dapat dipakai sebagai titik pijak melihat alternatif
pemecahan pada saat itu yang sesuai dengan konteks dan situasinya.
3.
Mampu
mengajukan alasan
Setiap alternatif pemecah masalah membutuhkan
argumentasi mengapa alternatif pemecahan masalah tertentu dipilih dan mengapa
bukan alternatif yang lain. Alasan-alasan itu hanya dapat dilihat oleh seorang
pemikir kritis karena kemampuannya melihat banyak pilihan dan harus hanya
memilih salah satu saja. Kemampuan melihat satu alternatif pemecahan masalah
disertai dengan bebrbagai risiko jika alternatif lain yang harus dipilih.
4.
Mampu
mengemukakan asumsi-asumsi
Untuk memecahkan masalah seseorang harus berawal
dari asumsi (berbagai dasar pemikiran) yang mungkin dapat dikembangkan sebagai
dasar teori untuk memecahkan masalah. Hal ini perlu dilakukan karena seorang
pemikir kritis biasanya berpikir mengenai sesuatu yang sebelumnya belum
dilakukan oleh orang lain.
5.
Mampu
menggunakan bahasa dengan jelas
Seorang pemikir kritis mampu menggunakan bahasa
secara efektif. Bahasa efektif yaitu bahasa yang kalimat-kalimatnya mampu
mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis dan sanggup menarik
perhatian pembaca terhadap pokok masalah yang dibicarakan.
6.
Mampu
mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan
Setiap pemikiran memerlukan bukti pendukung. Bukti
pendukung dapat berupa data, contoh-contoh, ilustrasi yang dapat meyakinkan
orang lain bahwa pemikiran yang dikemukakan memang benar.
7.
Mampu
menarik kesimpulan
Kesimpulan merupakan bagian akhir dari pemikiran
yang bermaksud untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa seseorang telah sampai
pada titik tertentu dalam membahas suatu pokok masalah. Hal ini menjadi penting
karena seseorang memberikan informasi kepada orang lain jika ada yang tertarik
untuk menindaklanjuti pemikirannya.
8.
Mampu
melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil
Implikasi merupakan sesuatu yang terkait secara
tersirat dengan persoalan lain yang relevan dengan pokok masalah yang telah
disimpulkan. Seorang pemikir kritis tidak hanya melihat hasil pemikirannya
dengan sesuatu yang secara langsung berkaitan dengan masalah yang dibicarakan,
tetapi melihat lebih jauh ke depan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat
terjadi pada masalah lain.
2.4
MEMBANGUN
SEMANGAT PEMBELAJAR
CTL
ingin membangun pembelajaran yang muatan akademisnya berkaitan dengan konteks
kehidupan pembelajar sehari-hari. Konteks kehidupan sehari-hari menjadi sangat
penting karena mampu merangsang sel-sel sarat otak untuk membentuk jalan menuju
ke pemahaman akademis yang lebih bermakna mengenai suatu konsep berpikir
tertentu.
Ada
beberapa hal yang perlu dikembangkan agar CTL mampu mencapai keberhasilan
belajar dengan standar tinggi, yaitu :
a)
Prinsip
saling ketergantungan
Tidak
ada masalah di alam semesta yang berdiri sendiri. Satu sama lain saling
bergantung dan saling memengaruhi sehingga alam semesta dapat bergerak
berdasarkan suatu sistem yang teratur. Ketika seorang pengajar masuk ke kelas,
mestinya juga berpikir apakah pembelajar saya akan saya bawa ke hukum alam
semesta yang bersifat universal dan saling bergantung ataukah justru saya
jauhkan dari pengaruh hukum alam yang saling bergantung satu sama lain?
Pembelajaran
di sekolah juga berlaku hukum saling ketergantungan dalam arti bahwa seorang
pembelajar akan menjadi semakin maju dalam belajar apabila ada pajanan
(exposure) dari pembelajar lain. Setiap pembelajar sebenarnya bergantian saling
mengisi pembelajar lain sehingga secara alamiah mereka akan terus tumbuh dan
berkembang bersama-sama.
b)
Prinsip
pembelajaran mandiri dan kerja sama
Sifat
alami seorang anak dalam perkembangannya selalu menuju ke kemandirian dalam
bertindak dan mengambil keputusan. CTL berpandangan bahwa sifat mandiri dan
kerja sama yang alami justru akan membawa pembelajar pada tumbuhnya rasa
percaya diri dan kesadaran bahwa keberhasilan merupakan kesuksesan bersama.
Sifat kemandirian adalah potensi besar utnuk menggali minat-minat baru,
semangat baru, motivasi baru untuk menyesuaikan dengan lingkungan hidup mereka.
c)
Prinsip
kebermaknaan dalam belajar
Pendekatan
CTL menanamkan pemahaman kepada pembelajar bahwa belajar bukan sekedar memahami
informasi, tetapi pemberian makna terhadap informasi yang dipelajari dengan
kebutuhan hidup dalam konteks yang sesungguhnya.
d)
Prinsip
berpikir kritis dan kreatif
Berpikir
kritis dan kreatif ibarat sekeping mata uang logam, memiliki dua wajah yang
dapat dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan. Berpikir kritis yaitu berpikir
secara sistematis untuk menemukan kebenaran dengan mengevaluasi bukti-bukti,
asumsi, logika, dan bahasa orang lain yang mendasari pernyataannya.Berpikir
kreatif adalah berpikir untuk mencari kesempatan mengubah sesuatu menjadi lebih
baik.
e)
Prinsip
penilaian secara autentik
Penilaian
autentik memberikan tantangan kepada pembelajar untuk menerapkan informasi dan
keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan yang bermakna.
Penilaian autentik memberikan peluang kepada pembelajar untuk memperlihatkan
kemampuan terbaik mereka sambil memperlihatkan apa yang sudah mereka pelajari.
2.5
MENINGKATKAN
DAYA SERAP PEMBELAJAR
Ada
beberapa kiat pembelajaran yang dapat meningkatkan daya serap pembelajar.
Sheal, Peter, 1989 (dalam Puskur, 2000) mengemukakan bahwa kita belajar 10%
dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita
lihat dan dengar, 50% jika pembelajar terlibat dalam diskusi, 70% jika
pembelajar melakukan presentasi, 90% jika pembelajar terlibat dalam bemain
peran, melakukan simulasi, dan mengerjakan hal yang nyata. Berdasarkan
penelitian tersebut, mestinya pengajar menghindari kegiatan pengajaran dengan
memberi ceramah, dan memperbanyak pemberian kesempatan kepada pembelajar untuk
melakukan sesuatu dan melaporkannya.
Komponen
pembelajar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) komponen pokok
meliputi pengajar, materi, dan pembelajar, dan (b) komponen penunjang meliputi
metode, teknik, strategi, dan media pembelajaran. Hubungan masing-masing
komponen tersebut mengarah ke pencapaian kompetensi belajar pembelajar.
2.6
MODEL
CTL BAHASA INDONESIA
Desain
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berdasarkan pendekatan CTL dirancang
berdasarkan komponen-komponen pembelajaran pada umumnya. Yang membedakan adalah
asumsi-asumsi teoretis yang dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan
pembelajaran. Pendekatan konstekstual berasumsi bahwa konteks alami tempat
pembelajar belajar merupakan pijakan utama dalam pembelajaran. Desain
pembelajaran secara kontekstual tersebut dapat dirancang dengan memperhatikan
komponen pembelajaran sebagai berikut :
1.
Pemilihan
materi
Pembelajar
bahasa dan sastra Indonesia harus memilih materi yang tidak jauh dengan
lingkungan hidup pembelajar. Materi pembelajaran harus dikemas dalam bentuk problem solving (pemecahan masalah)
sehingga memungkinkan pembelajar untuk mengemukakan pendapat pribadi secara
argumentatif yang didukung dengan data serta argumen-argumen yang lain. materi
pembelajaran yang secara kontekstual hendaknya diberikan secara beragam
sehingga pembelajar diperkenalkan dengan aneka ragam konteks kehidupan.
2.
Metode
pembelajaran
Metode
pembelajaran berdasarkan pendekatan CTL harus memberikan peluang kepada
pembelajar untuk bekerja sama dengan pembelajar lain agar terjadi tukar-menukar
gagasan (berdiskusi) untuk saling beradu argumen sehingga pembelajar terbiasa
untuk menerima atau memberi sumbangan pikiran orang lain. hal ini sangat
penting karena dengan terbiasa menerima pendapat orang lain atau memberikan
sumbangan pemikiran kepada orang lain akan tumbuh sikap saling menghargai,
memberi, dan menerima.
3.
Teknik
pembelajaran
(a) Membentuk
kelompok diantara pembelajar
Mereka saling bertukar
informasi mengenai apa yang dirasakan dalam situasi alamiah.
(b) Berbagi
tugas di antara pembelajar
Setiap pembelajar
mendapatkan tugas untuk saling mengidentifikasi objek di suatu tempat. Setiap
pembelajar melaporkan hasil identifiasinya untuk dicermati oleh pembelajar lain
dan kemudian saling memberikan tanggapan dan komentar. Tanggapan dan komentar
setiap pembelajar disimpulkan bersama sehingga semua pembelajar memiliki
persepsi yang sama mengenai hasil identifikasi objek yang diamati.
(c) Saling
membantu di antara pembelajar
Setiap pembelajar
diberi kasus suatu peristiwa dalam masyarakat yang berbeda-beda untuk
dipecahkan.
(d) Saling
memberi semangat untuk sukses bersama
Setiap pembelajar
diberi kesadaran bahwa didunia ini tidak ada satu masalah pun yang dapat
dipecahkan sendirian. Setiap masalah pasti membutuhkan sumbangan berbagai
disiplin ilmu untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, pembelajar sejak dini
harus diberi kesempatan untuk membuat proyek agar dapat diselesaikan secara
bersama-sama dalam bentuk tim.
4.
Strategi
pembelajaran
Strategi
adalah siasat yang harus dilakukan oleh pembelajar agar tujuam belajar dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Jika teknik belajar yang dipilih adalah
saling membantu di antara pembelajar, strategi yang dapat dipilih antara lain
(1) saling memberi dukungan untuk keberhasilan, (2) saling memberi kritik,
saran, dan masukan, (3) masing-masing pembelajar selalu siap menerima kritik,
saran, dan masukan sebagai dorongan untuk sukses bersama, (4) setiap pembelajar
harus merasakan dan menyadari bahwa andil pembelajar lain harus dihargai
sebagai kontributor yang sangat signifikan dalam mencapai suatu keberhasilan.
5.
Media
pembelajaran
Desain
pembelajaran dengan CTL harus memberikan peluang untuk memilih media yang
memungkinkan digunakannya media pembelajaran sesuai dengan konteks dan situasi
belajar pembelajar.
6.
Interaksi
belajar mengajar
Interaksi
belajar mengajar dengan CTL hendaknya memberikan kemungkinan kepada pembelajar
untuk mengemukakan pemikiran-pemikiran inkonvensional sehingga pemikiran kritis
dan kreatif pembelajar dapat terakomodasi dengan baik. Ketika pengajar minta
kepada pembelajar agar memecahkan masalah sesuai dengan pendapat pribadi
pembelajar, pengajar harus mengakomodasi pendapat-pendapat yang secara logis
tidak masuk akal tetapi secara argumentatif dapat diterima akal sehat.
7.
Penilaian
hasil belajar
Penilaian
hasil belajar dengan CTL disarankan menggunakan penilaian autentik. Artinya,
penilaian dengan non-tes, seperti portofolio, proyek, untuk kerja adalah bentuk
penilaian tepat untuk pembelajaran berdasarkan pendekatan CTL.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.1.1
Pengertian
ctl
Contextual Teaching and Learning (CTL)
atau belajar dan mengajar berdasarkan pendekatan kontekstual adalah
pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau
lingkungan yang berhubungan dengan diri pembelajar.
3.1.2
Aneka
pendekatan dalam pembelajaran bahasa indonesia
(1) Pendekatan
komunikatif
(2) Pendekatan
konstruktivisme
(3) Pendekatan
CTL
3.1.3
CTL
membangun pemikir kritis dan kreatif
1. Mampu
mengidentifikasi masalah
2. Mampu
menentukan sudut pandang
3. Mampu
mengajukan alasan
4. Mampu
mengemukakan asumsi-asumsi
5. Mampu
menggunakan bahasa dengan jelas
6. Mampu
mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan
7. Mampu
menarik kesimpulan
8. Mampu
melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil
3.1.4
Membangun
semangat pembelajar
Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan
agar CTL mampu mencapai keberhasilan belajar dengan standar tinggi, yaitu :
a) Prinsip
saling ketergantungan
b) Prinsip
pembelajaran mandiri dan kerja sama
c) Prinsip
kebermaknaan dalam belajar
d) Prinsip
berpikir kritis dan kreatif
e) Prinsip
penilaian secara autentik
3.1.5
Meningkatkan
daya serap pembelajar
Ada beberapa kiat pembelajaran yang
dapat meningkatkan daya serap pembelajar. Sheal, Peter, 1989 (dalam Puskur,
2000) mengemukakan bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa
yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat dan dengar, 50% jika pembelajar
terlibat dalam diskusi, 70% jika pembelajar melakukan presentasi, 90% jika
pembelajar terlibat dalam bemain peran, melakukan simulasi, dan mengerjakan hal
yang nyata. Berdasarkan penelitian tersebut, mestinya pengajar menghindari
kegiatan pengajaran dengan memberi ceramah, dan memperbanyak pemberian
kesempatan kepada pembelajar untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya.
3.1.6
MODEL
CTL BAHASA INDONESIA
1. Pemilihan
materi
2. Metode
pembelajaran
3. Teknik
pembelajaran
4. Strategi
pembelajaran
5. Media
pembelajaran
6. Interaksi
belajar mengajar
7. Penilaian
hasil belajar
3.2 Saran
1) Bagi
Mahasiswa
Dalam penulisan makalah yang berjudul “contexstual teaching and learning dalam PBI”, penulis
mengharapkan agar seluruh mahasiswa memahami materi yang sudah dijelaskan diatas.
2) Bagi
Dosen
Dalam penulisan makalah yang berjudul “contexstual teaching and learning dalam PBI”,
penulis mengharapkan agar kedepannya mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa
Indonesia (MPBI) menjadi lebih baik karena sudah ada literatur yang digunakan.
3)
Bagi Perspustakaan
Dalam
penulisan makalah yang berjudul “contexstual teaching and learning dalam PBI”, penulis
dituntut untuk banyak membaca serta mengumpulkan beberapa informasi. Penulis
mengharapkan agar perpustakaan menambah literatur untuk mempermudah dalam
mencari informasi serta sumber.
DAFTAR PUSTAKA
Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
https://www.google.com.hk/search?hl=in-ID&source=android-browser&ei=07s0WqCmAYGu0gS1kaDwDw&q=latar+belakang+contextual+teaching+and+learning+dalam+pembelajaran+bahasa+indonesia&oq=latar+belakang+contextual+teaching+and+learning+dalam+pembelajaran+bahasa+indonesia&gs_l=mobile-gws-serp.3...6665.16152.0.16908.38.38.0.0.0.0.277.6873.1j26j10.37.0....0...1c.1.64.mobile-gws-serp..1.21.4118...0i22i30k1j33i21k1j33i160k1j30i10k1.0.kwBQqEl3Bys
Komentar
Posting Komentar